Trip to Merbabu

Jika kalian bertanya darimana perjalanan ini dimulai, saya tidak cukup yakin darimana.  Karena memang banyak hal yang mendorong saya untuk dapat melakukan perjalanan mendaki gunung. Entah itu sejak pertama kali saya mendaki bukit saat masih menjadi anggota pramuka, hobby travelling, atau bahkan terpengaruh film 5 cm yang memang menjadikan trend baru bagi anak-anak muda seperti saya ini untuk mendaki dan mencintai alam.
Perjalanan ini saya lakukan setelah uts semester genap beberapa waktu yang lalu. Jam istirahat seperti biasa, berkumpul di ruang makan bersama teman dan ide itu tiba seketika.
 Awalnya saya hanya mengatakan bahwa saya ingin berkemah, tidak terlalu mementingkan dimana tempatnya. Namun ketika ditanya dimana, spontan saya mengutarakan, “Bagaimana jika di gunung?” dan mereka semua setuju. Saya menyarankan untuk ke merbabu. Jujur saja saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Hanya bermodalkan pengalaman menaiki beberapa bukit di daerahku saja, saya langsung berani untuk mengatakan gunung merbabu. Gila? Anggap saja demikian.

Percaya atau tidak, 3  hari kemudian kami benar-benar melakukannya. UTS selesai, dan hari itu juga-lah kami memutuskan untuk berangkat ke merbabu.
Memang dari awal ini merupakan rencana nekad, kami tidak tahu dimana itu merbabu, dan ketika melakukan pencarian di internet pun kami kebingungan untuk memilih jalur, karena menurut informasi di internet, terdapat 4 jalur berbeda untuk memulai pendakian.
Dengan penuh pertimbangan kami memutuskan untuk memilih rute pedakian jalur Selo, Boyolali.

Pulang kuliah kami mempersiapkan semua perlengkapan, hingga akhirnya sore hari sesudah ashar, kami berangkat. Bermodalkan maps, kami akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Perjalanan yang panjang, namun tidak berasa melelahkan karena suasana yang memang sangat nyaman untuk dinikmati.
Meskipun beberapa kali salah jalur, (lupakan keakuratan maps di daerah pedesaan) namun akhirnya kami tiba di pos pendakian milik pak Bari.

Kami disambut dengan hangat, dan beliau mempersilahkan kami beristirahat sebelum memulai pendakian.
Pos pendakian ini sangat nyaman, dan cukup memiliki persediaan yang lengkap. Setelah shalat magrib, kami beristirahat sejenak sembari meluruskan otot.
Meskipun menyenangkan, perjalanan hampir 3 jam dengan sepeda motor tetaplah membuat urat syaraf kami tegang. Setelah men-charge energi dengan nasi soto buatan istri pak Bari, kami pun memulai pendakian pada pukul 8 malam.

Perjalanan kami dimulai dengan pendataan jumlah anggota di pos penjagaan. Oh iya awalnya kami berangkat berlima, sebelum akhirnya kami mengajak satu orang di pos pak Bari untuk bergabung karena dia sendirian. Imam namanya, siswa kelas 11 SMA yang melakukan pendakian seorang diri ke merbabu dan merapi ditengah libur UN kelas 12.
Dan akhirnya aku sadar jika ada yang lebih gila dibandingkan kami berlima. But,its ok, dia dengan senang hati dia ikut bergabung karena ini juga merupakan pengalaman pertamanya ke Merbabu.



Perjalanan malam kami penuh dengan moment yang berkesan. Mulai dari salah satu anggota kami yang drop karena kelelahan. Mungkin karena dia membawa beban yang terlalu berat, (tas carier dengan semua perlengkapan berkemah dan beberapa bekal) akhirnya kami silih berganti membawa tas tersebut sampai ke pos perkemahan.

Semakin ke atas, nafas kami semakin deras mengeluarkan asap, suhu 11 derajat celcius cukup membuat badan kami bergetar jika beristirahat terlalu lama, namun membuat terlalu lelah jika terus melakukan pendakian. Dan lagi-lagi salah satu anggota kami mengalami kelelahan.

Jika kalian bertanya darimana mereka mendapatkan kembali energinya untuk melanjutkan pendakian, mungkin satu-satunya alasan yang kuat adalah rasa penasaran untuk sampai di puncak jawabannya. Apalagi saat sudah setengah perjalanan kami melihat lampu-lampu di bawah berkelip layaknya bintang, ah sungguh pemandangan seperti itu sontak mampu membakar semangat kami untuk terus melangkah.

Perpaduan yang tepat antara kapan harus beristirahat dan kapan harus melakukan perjalanan yang baik membuat tenaga kami benar-benar terjaga secara pas. Meski akhirnya kejadian kram di betis kanan akhirnya menimpa saya. Mungkin karena terlalu bersemangat karena tinggal beberapa langkah lagi tiba di pos perkemahan, disamping membawa tas terberat dengan durasi yang cukup lama, membuat teriakan kesakitan saya menjadi akhir perjalanan kami di malam hari. Waktu menunjukan pukul 2 pagi.

Teman-teman saya langsung mendirikan tenda, tapi tidak dengan saya, kram yang terjadi tidak dapat membuat saya berdiri, jadi setelah tayamum dan shalat, saya langsung berkepompong di sleeping bag.
Malam yang terlalu dingin ternyata membuat kami susah untuk tidur, akhirnya kami menyalakan kompor dan memasak persediaan mie instan untuk penghangat tubuh. Barulah kami semua dapat tertidur.

Pagi tiba, beberapa pendaki lainnya yang tiba lebih awal melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi pada pukul 3 pagi, mereka semua mengejar sunrise di puncak. Namun tidak dengan kami. Karena baru saja tiba, kami memutuskan untuk tetap di puncak pos pendakian dan memilih menikmati sunrise dari puncak kami berada sekarang. Pos pendakian adalah pos 3 yang sudah merupakan puncak, namun bukanlah puncak tertinggi. Masih perlu 3 jam perjalanan lagi sebelum sampai di puncak tertinggi.

Pagi tiba. Pagi pertama saya di atas awan. So awesome. Sinar matahari pagi mampu berikan semangat dan motivasi untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.
Hanya 3 orang dari kami yang melanjutkan perjalanan. 2 teman saya memilih untuk tinggal di tenda. Apa hendak dikata. Kami bertiga melanjutkan ke sabana 1 dan 2 bertiga. Hanya dengan membawa botol minum dan kamera.
 Namun sayangnya salah satu teman saya tidak mampu menghadapi tekanan udara di atas yang semakin menipis, alhasil temanku turun, dan kami hanya melanjutkan perjalanan berdua.

Tiba di sabana, barulah saya sadar bahwa sabana bukanlah fairy tale. Apa yang saya saksikan di TV, dan apa yang saya baca mengenai sabana saat itu sungguh benar wujudnya. Sedikit kekecewaan karena pada saat itu sabana yang berisikan juga kebun edelweiss sedang tidak berbunga lebat. Namun tetap tidak mengurangi indahnya sabana gunung merbabu.

Perjalanan 3 jam ternyata membuat persediaan yang kami bawa tidak cukup, saya yang tidak bisa berhenti terlalu lama karena takut akan kembali mengencangkan otot-otot di betis saya pun jauh meninggalkan teman saya di belakang. Alhasil saya tinggalkan minuman saya dari atas untuk teman saya, dan saya meneruskan perjalanan sambil berharap bertemu pendaki lainnya. Beruntung saat itu ada beberapa orang yang sedang turun, tanpa malu saya meminta persediaan mereka, dan tentu saja sesama pendaki dengan senang hati mereka membantu. Mereka memang hanya memberikan minum dan roti, namun rasanya jauh dari itu. Kalian akan tahu bagaimana rasanya nanti jika berada di posisi saya. Atau kalian sudah pernah merasakannya.? Rasa kepedulian yang indah bukan?
Tidak perlu bertanya apa suku bahasa, ras maupun agama. Rasa kekeluargaan di atas gunung terasa amat indah dan tulus.

Akhirnya saya tiba di puncak. 30 menit lebih dahulu dari teman saya. Saya berani meninggalkan nya karena selain alasan kaki saya yang tidak bisa berhenti terlalu lama, rute yang jelas dan banyak pendaki yang lain menjadikan saya berani melangkah duluan.
Di puncak juga menyadarkan saya kenapa banyak orang menangis setelah sampai di puncak. Namun saya terlalu lelah bahkan untuk mengeluarkan air mata saja tidak bisa. Perjalanan 14 jam mendapat balasan yang jauh lebih berarti. Indah.? Tentu saja semua orang tau kalau puncak adalah tempat yang indah. Namun bukan saja indah. Pengalaman dan pelajaran yang mahal saya dapatkan disini, tidak hanya saya, tetapi kami semua.


Kami berdua kembali turun pukul 11.30 dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, perjalanan turun terasa sangat menyenangkan, kaki terasa jauh lebih ringan. Tentu saja, karena jalur sekarang tidak lagi mendaki.
Indahnya sabana membuat kami kembali berhenti untuk menikmati suasana yang entah kapan akan kami dapatkan kembali.

Pukul satu siang kami sudah sampai kembali di tenda. Teman-teman di tenda berebut mengambil kamera yang saya bawa untuk melihat bagaimana suasana di atas. Melihat mereka seperti itu sebenarnya sangat disayangkan, cukup sedih rasanya kami tidak bisa berada di puncak bersama. Tapi apa daya, perjalanan mendaki memang butuh pengorbanan jika memang harus berkorban. Seperti misalnya pengorbanan aron dan royce.
aron harus memutus tangannya sendiri yang terjepit batu karena pertolongan tak kunjung tiba. Atau Royce di film vertical Limit yang harus memutus tali yang terhubung dengan kedua anaknya.

 Maybe next time kami akan berada satu puncak tertinggi bersama.

Pukul 3 sore kami turun, beberapa ekor monyet melepas kepergian kami dengan wajah sedih. Perjalanan turun ternyata jauh lebih menyenangkan lagi, karena saat malam kita mendaki, kita tidak bisa melihat jelas panorama yang disuguhkan sepanjang jalur pendakian selo.

Di perjalanan pulang kami berpapasan cukup banyak pendaki yang baru akan memulai pendakiannya, maklum karena saat itu adalah posisi weekend. Jadi jalur pendakian cukup ramai. Oh iya kami berpisah dengan imam yang langsung mengambil rute pendakian ke merapi. Entah bagaimana hasilnya karena kami tidak saling bertukar kontak, namun kami berikan doa terbaik untuk perjalanannya ke merapi.

Kami sampai di pos pendakian pak Bari saat magrib, dan pulang ke Yogyakarta pukul 8. Berbeda dengan perjalanan ke selo, rute pulang ke Yogyakarta dapat kami tempuh hanya dalam waktu 2 jam.

Boleh dibilang perjalanan kami sangat singkat, tidak sampai memakan waktu 30 jam, kami sudah kembali di yogyakarta. Namun pengalaman yang kami dapatkan selama kurang dari 30 jam ini akan kami ingat sepanjang hidup kami.

Boleh dibilang juga tidak semua dari kami sampai di puncak tertinggi, namun kami berlima sukses untuk turun dan kembali ke Yogyakarta dengan selamat secara bersama. Bukankah tujuan utama dari mendaki untuk dapat kembali turun.?

At last ini bukanlah akhir, kami berencana untuk terus mencintai alam di negeri ini, baik bersama maupun tidak, baik dengan mendaki gunung ataupun tidak. Yang jelas ini bukanlah akhir. Terima kasih sebesar-besarnya teruntuk teman-teman
Irvan, togar, zein, dan eza.
Cerita di merbabu bersama kalian tidak akan pernah mati!



                                                                        Perjalanan ke puncak merbabu, 12-13 April 2017