My Trip, My Story (2)

My Trip, My Story (2)
Kali ini adalah ceritaku kala sedang melakukan perjalanan sendirian dari Jakarta menuju Kebumen. Tujuanku adalah rumah nenek. Saat itu aku masih kelas 8 SMP.
           
            Perjalanan aku tempuh sekitar 7 jam dengan kereta api, dan selama perjalanan itulah kembali muncul sebuah cerita berharga…

####

            Perjalanan awal dimulai dari stasiun Pasar Senen. Tepatnya pukul 07.00 WIB.
Sejenak tidak ada hal yang menarik di awal-awal perjalanan kereta. Dari balik jendela gerbong, aku hanya melihat gedung-gedung tinggi Jakarta dan beberapa pemukiman liar nan kumuh. Ditambah lagi tidak ada orang disebelahku. Entah kenapa gerbong kereta kali ini sepi penumpang, mungkin dikarenakan belum tibanya musim liburan.

            Perjalanan yang cenderung membosankan membuat beberapa penumpang memilih untuk langsung tidur. Begitupula denganku, apalagi posisiku menguasai satu kursi penuh karena tidak ada yang duduk disebelahku. Alhasil aku pun tidur dengan leluasa.

            Tiba di pemberhentian pertama, sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di stasiun Cirebon. Akupun terbangun karena suasana kereta tiba-tiba hening. Namun tidak lama, karena tiba-tiba saja gerombolan pedagang asongan masuk ke gerbong kereta dan mulai berteriak menjajakan barang dagangannya.
Beberapa penumpang lain ikut terjaga dari tidur mereka, dikarenakan teriakan para pedagang asongan yang bersuara dengan intonasi yang cepat namun nyaring. Nyaris berteriak.
Tentu saja begitu, karena mereka harus beradu cepat dengan waktu. Kereta yang hanya berhenti sekitar 10 menitan inilah yang menjadi harapan mereka untuk mencari sesuap nasi.

            Cara mereka menjajakan barang dagangan mereka pun berbeda-beda, ada yang menawarkan kepada para pembeli satu persatu, ada juga yang meletakkan barang dagangan mereka ke meja penumpang untuk kemudian diambil kembali saat kereta sudah akan berangkat. Berharap para penumpang ada yang tertarik tanpa harus menawarkannya satu persatu kepada penumpang.
Barang yang dijajakan pun beraneka macam, mulai dari makanan hingga peralatan rumah tangga.

            Pemandangan ini sebenarnya cukup unik, namun juga menyakitkan. Apalagi melihat beberapa dari mereka ada yang membawa anak kecil. Dan tak jarang pula sebagian pedagang memiliki cacat fisik. Maka ketika melihat mereka berdesak-desakan dengan padagang lain membuat hati ini pilu.

            “minumnya dek.?” Ujar seorang ibu-ibu pedagang menawarkan minuman yang ia jual padaku.
            “ndak bu, terimakasih, sudah ada” ujarku sambil sedikit mengangkat tangan. Lalu ia pun segera berlalu untuk menawarkan kepada penumpang lain.

            Akhirnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan. Alhasil semua pedagang pun segera keluar dari gerbong kereta dan menunggu kereta selanjutnya yang berhenti.

            Kereta kembali melaju kencang melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Dan ketika tiba di stasiun tempat pemberhentian selanjutnya, suasana yang terlihat nyaris sama seperti saat kereta berhenti di stasiun Cirebon. Bahkan karena gerbong tidak muat lagi, beberapa penjual tetap menawarkan barang dagangan mereka kepada penumpang  lewat luar gerbong. Dan transaksi dilakukan lewat kaca jendela.

            Kereta terus melaju hingga akupun akhirnya sampai di stasiun kebumen sekitar pukul 14.00 WIB.
######


            Melihat semua ini membuat aku berpikir, betapa susahnya untuk mencari nafkah. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk mengetahui akan hal ini, namun aku tau bahwa hidup ini keras, tidak bekerja berarti tidak makan. Dan jika nanti kedepannya pihak kereta api melarang para pedagang asongan untuk berdagang demi kenyamanan penumpang baik di gerbong kereta maupun di stasiun, lantas bagaimana nasib mereka yang selama ini bergantung kepada kereta yang berhenti.?

My Trip, My Story



Ini adalah cerita pengalamanku saat berlibur sendirian  di akhir semester satu 2014. Saat itu aku sedang berada di kelas 2 SMA.
               
Keberangkatanku dimulai sebelum pembagian rapor, alias libur duluan. Selain menghindari kepadatan di perjalanan,  juga untuk menghemat biaya tiket pesawat sebelum terjadi kenaikan di awal libur semester.
Dari rumah (LubukLinggau), aku diantar oleh papa dengan sepeda motor untuk mencari angkot ke stasiun. Tujuan awalku adalah Palembang, karena aku memilih bandara di Palembang untuk take off ke Jakarta.

                Pukul 21.00 kereta jurusan LubukLinggau- Palembang berangkat. Aku duduk di sebelah mas-mas kuliahan yang memiliki tujuan yang sama denganku, Palembang. Entah apa yang dia kerjakan di akhir semester waktu itu yang justru masuk kuliah di saat liburan hampir tiba. Entahlah, mungkin ia akan mengambil  semester pendek atau ada keperluan lain, aku tidak mau tau lebih jauh. Orangnya cukup  friendly  menurutku, dari gaya bicaranyalah aku dapat menilai. kami sempat mengobrol, membahas beberapa topik sebelum akhirnya kami tidur.

Malam semakin larut, dan semua  orang  bersiap untuk tidur, begitu pula orang di sebelahku yang justru memilih untuk tidur di lantai kereta dengan alasan tidak bisa tidur kalau tidur dengan posisi duduk. Agak tidak enak sebenarnya, namun yasudah, toh orang ini yang memilih duluan untuk tidur di bawah.
                                                                     ###########
     
Akhirnya kereta tiba di stasiun kertapati Palembang, sekitar pukul 6 pagi. Perjalanan aku lanjutkan dengan naik bus kota menuju kos-kosan kakakku. Sebelum berpisah, mas-mas yang disebelahku  ini mengajak berjabat tangan denganku sambil mengucap salam perpisahan dan mendoakanku untuk selamat sampai tujuan. What a friendly people.


Setelah stay selama 2 hari di kosan kakak-ku, akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju ibu kota. Setelah mendapat penjelasan rute dari kakak-ku, kali ini dengan menaiki bus kota dan disambung dengan ojek, aku menuju bandara Sultan Mahmud BadarudinII .
Setelah  check in akupun menunggu di kursi tunggu selama beberapa saat sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawatku.

Kembali aku menemukan orang yang ramah, kali ini orang yang berasal dari Malang. Dan ia sedang menunggu pesawatnya untuk pulang ke Malang. Orang ini duduk persis di sebelahku. Bertanya basa-basi tentang tujuanku dengan bahasa yang sangat ramah.
Taklama setelah itu, karena ingin merokok, ia pergi mencari ruangan khusus merokok, dan  ia menawariku untuk ikut.  

“maaf mas saya ndak merokok” ujarku.

Dan akhirnya orang tersebut pergi mencari ruangan merokok sendirian. Sebelum ia pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan mengambil satu bungkus roti, kemudian memberikannya padaku, sambil berujar bahwa roti itu tidak beracun dan ia orang baik-baik.
Akupun menerimanya sambil tersenyum mendengar ucapannya yang mungkin mengira bahwa aku menduga dia akan meracuniku dengan makanan.Haha

Setelah mendekati waktu keberangkatanku, aku beranjak dari kursiku untuk mencari terminal pesawat yang akan aku naiki. Dan kembali aku duduk disebelah orang Malang tadi. Setelah kembali mengobrol beberapa saat,  akhirnya pesawat yang ia tumpangi berangkat lebih dahulu. Ia pun beranjak dari kursi dan mengucapkan salam perpisahan sambil menjabat tanganku. Kemudian saling mendoakan keselamatan selama diperjalanan.
Sebenarnya orang tersebut sempat memperkenalkan namanya, tapi aku tidak ingat lagi sampai sekarang siapa nama orang tersebut.

                Akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawatku siap untuk diberangkatkan dan kami para penumpang diharapkan untuk memasuki pesawat.

Saat itu pesawat take off pukul 18.00 dan untungnya aku duduk di sebelah jendela. Maka sekali lagi aku mendapatkan kesempatan untuk melihat sunset dari atas awan. What a beautiful sky
                Setelah mendarat di Halim Perdanakusuma, aku melanjutkan perjalanan dengan Damri menuju tempat om dan tanteku di Bekasi.
Lagi-lagi aku menemukan keramahan disana. Melihataku bertanya dengan supir bus tentang tujuanku, seorang penumpang bus yang sama denganku, pria berumur sekitar 30 tahun keatas membantuku dengan menunjukkan arah, dan akhirnya aku berhasil menemukan jalan yang aku tuju.
Tidak ada salam perpisahan kali ini, setelah aku berterimakasih, orang tersebut langsung pergi dengan mengacungkan jempolnya dan berkata “sama-sama”

Akhirnya aku sampai dan setelah beberapa hari berkeliling ibu kota, aku pun melanjutkan perjalanan bersama omku menuju rumah nenek di kebumen. Dan dari sanalah aku bersama omku melakukan wisata kuliner.

Setelah semalam di kebumen, kembali aku dan om melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan melanjutkan wisata kuliner disana.
Sebelum pulang kembali ke kebumen. Kami menuju bantul dan mengunjungi tempat wisata di Bantul. Sempat diguyur hujan, menjadikan suasana kepulangan kami sedikit berbeda. Apalagi rute yang kami ambil berbeda dari keberangkatan kami semula.
Yogyakarta, beautiful and peace.

Akhirnya kami kembali ke Bekasi.Dan kembali kami mengambil rute perjalanan yang berbeda dari keberangkatan kami. So, saat itu kami benar-benar meng-explore jawa tengah.

Dibekasi, kembali aku bersama om berkeliling Jakarta. Melewatkan malam tahun baru disana, dan tak terasa waktu berliburku hampir habis.
Namun sebelum pulang aku sempat berlibur ke Bogor, tepatnya sehari sebelum jadwal kepulanganku ke Sumatera. Perjalanan ke bogor yaitu dengan menaiki krl. Meskipun hanya sehari, namun cukup untuk berwisata kuliner di sana dan melihat-lihat bogor,mulai dari kebun raya sampai istana presiden.



Tiba hari dimana aku harus kembali ke sumatera.Dan kali ini juga rute yang berbeda dari sebelumnya. Karena bandara kepulanganku kali ini adalah Soekarno-Hatta. Jadi sebelum tiba di Tangerang, kembali ada waktu beberapa jam untuku melihat Jakarta.

Tiba di bandara Palembang, aku melanjutkan perjalanan dengan taksi dan malamnya aku langsung pulang ke LubukLinggau dengan kereta api.
Kali ini orang yang duduk di sebelahku adalah orang tua yang sebenarnya sudah pantas untuk disebut kakek-kakek. Sepanjang perjalanan, kurang lebih 2 jam ia bercerita tentang masa mudanya dulu. Menunjukkan bahwa dia sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Apalagi kakek ini adalah mantan preman.

Tujan kakek ini tidak jelas, hanya sendirian menuju lubuk-linggau untuk bertemu teman lamanya yang entah dimana. Ia hanya tau bahwa temannya ada di Lubuk-Linggau. Kakek yang nekad menurutku.
Tapi untunglah ditengah malam ia berhenti bercerita dan akhirnya tertidur.

Esoknya aku sampai di lubuk-linggau dan kembali ke rumah.

Liburan kali ini bukanlah liburan pertama kali aku pergi tanpa kedua orang tua. Sejak smp aku sudah sering berlibur sendirian. Namun kali ini berbeda. Entahlah, rasanya liburan kali ini benar-benar lengkap. Mulai dari menemukan orang-orang ramah, wisata kuliner, rute perjalanan yang berbeda-beda, Apalagi dari segi transportasi, hanya kapal laut yang aku lewatkan di liburan kali ini. Meski sempat mengalami paranoid karena adanya kecelakaan pesawat air asia di akhir tahun. Namun itu tidak mengurangi keseruan dari liburanku.

Mungkin pengalaman liburan kalian lebih seru, mahal, dan lebih menyenangkan dari liburanku, namun tenang, Ini bukan akhir dari kegiatan liburanku. Ini baru awal, dan akan ada lagi dengan cerita yang berbeda disetiap perjalanannya.

Dan sekarang aku tau bahwa liburan itu tidak perlu jauh. Tidak perlu mahal. Tidak perlu pergi ke negeri orang. Kalian hanya perlu menikmatinya. Memang akan lebih indah jika kita bisa berpetualang ke berbagai penjuru dunia, namun aku bersaran berpetualang lah di negeri sendiri sebelum kalian berpetualang di negeri orang.
Dan ciptakan cerita yang berharga di setiap perjalananmu
Agar petualanganmu dapat memiliki arti tersendiri bagi dirimu.
Keep explore.





Story about team. Story about MFC



Micro Film Community. Ya! Itulah nama team yang kami buat. Mungkin kalian bertanya, kenapa memilih kata “Micro” yang berarti kecil. .
Memang benar. Micro berarti kecil, dan inilah kami. Sebuah team film yang kami bentuk diluar dari kegiatan sekolah. Atau lebih tepatnya kami yang membuat team ini sendiri. Meskipun dengan peralatan yang sangat sederhana, tapi bukan berarti kami tidak bisa berkarya, bahkan tidak pernah membuat semangat kami surut dalam hal menciptakan sebuah video. Selalu ada saja karya yang kami buat saat kita berkumpul. Maka dari itu nama micro kami pilih untuk team ini, dengan harapan apa yang kita rintis dari hal yang kecil ini dapat menjadi sebuah karya yang berbasis macro. Siapa sangka.?...

Dan inilah mereka …

Kita mulai dari camera-man.
Disini kami mempunya 3 orang camera-man. Wempy, fajri, dan Rafi.

WEMPY

 



Dia kelas 10.1 dia hampir saja batal bergabung dengan team kami karena masalahnya dengan wanita. Haha tapi untung saja dia akhirnya bergabung dengan team kami dan kami beruntung memilikinya. Meskipun dia sudah menjadi camera-man team inti kami, dia tidak pernah berhenti belajar untuk terus mengasah kemampuannya. Ini yang aku suka darinya.
Basicnya dia memang sudah menyukai fotografer sejak awal, dan pernah menjadi juara lensa SMANTU di sekolah kami. So, jangan tanyakan lagi insting lensanya.
Untuk posturnya sendiri dia tidak terlalu tinggi, berkulit gelap dan entah kenapa dia dijuluki Mr Kambeng.


FAJRI


            Sama halnya dengan wempy, dia juga kelas 10.1 postur tubuhnya pun sama dengan wempy, hanya saja Fajri sedikit lebih putih dari Wempy.
            Berbicara tentang kemampuan juga tidak ada bedanya dengan wempy. Ulet dan konsisten. So, kita ceritakan hal lain diluar itu saja.
Dia orangnya selalu merasa bodoh amat dengan keadaan, selalu jujur apa adanya, bahkan tidak pernah merasa perlu menjaga image sewaktu ada dalam team meskipun dihadapan pacarnya sendiri, yaitu editor kami, Ani.
Jika kalian bertemu dengannya, kalian harus mendengar bagaimana cara dia tertawa yang seperti gerombolan kuntilanak sedang arisan. Ya, itulah fajri.


RAFI

      Dia adalah camera-man team yang terakhir. Kelas 10.5 sekelas dengan Ani. Tinggi, berkulit sawo matang dengan tahi lalat di pipi kanannya. Meskipun dia camera-man, namun tak jarang kami menjadikan dia aktor apabila sedang dibutuhkan. Kemampuan aktingnya lumayan. Gayanya yang natural saat terekam kamera terkadang menjadikan dia enak dilihat.
Orangnya loyal dan sangat terbuka, selalu setuju apapun keputusan team. Kemanapun kita take, apapun peran yang harus dia mainkan, selalu dia sanggupkan. Dan itulah Rafi.











Kita lanjutkan ke team penulis.

Kita punya ogi, lhiya, rahmasiwi, tutik dan lainnya. Tidak banyak karakter yang dapat saya lihat dari mereka. Hanya mereka berempat yang dapat saya deskripsikan disini karena merekalah yang sering muncul disaat syuting dibandingkan penulis lain.

 OGI

            Biasa juga dipanggil Afif. Dia kelas 10.1 juga. Posturnya hampir sama dengan rafi, hanya saja rambutnya ikal dan tidak pernah panjang lebih dari 5cm semasa di SMA.
            Cerita karangannya adalah film pertama yang kami buat. Orangnya penuh ide, namun dia butuh partner yang bisa mengembangkan idenya. Disamping penulis, dia juga team kreatif dan tidak jarang memberi masukan yang baik untuk proses syuting. Satu lagi, dia adalah aktor parodi kami. Kalian harus melihat aktingnya saat bermain parodi. Parodi MFC tidak akan lengkap tanpa ogi.  


LHIYA

            Penulis kelas 10.4 yang satu ini selalu hadir disaat kita melaksanakan proses syuting, selalu siap merevisi scrip secara dadakan ababila dirasa kurang pas. Sama seperti ogi, idenya dalam hal mengembangkan cerita sangat luas. Bahkan ketika kami buntu dalam memikirkan suatu hal, Lhiya selalu bisa memunculkan pemikiran alternativenya.
            Orangnya mudah berbaur, sehingga mudah baginya untuk saling bertukar pikiran dengan penulis lain. Dan karena dialah team kami sudah memiliki costum team. Karena dia yang mengurus semuanya.


RAHMASIWI

           kelas 10.3.  Tak banyak yang bisa aku tuliskan tentang dia. Karena orangnya cenderung pendiam dalam team. Tapi yang aku tahu setelah membaca ceritanya, dia merupakan penulis dengan imajinasi tinggi namun tetap realistis dan mudah dicerna.
           
TUTIK

            Lagi lagi kelas 10.1. dialah Tutik novrida. Dari pertama melihat mukanya, siapapun juga tahu kalo dia seorang yang suka dibidang sastra. Dia juga penyair puisi, dan sebagai anak indekos, tentu saja banyak waktu luang baginya untuk menciptakan karya sastra yang hebat.
            Dia juga pendiam layaknya siwi, namun jangan salah, justru disaat diam dan tenang itulah goresan penanya bisa mengalir. Meski pendiam, dia punya kisah menarik dengan aktor kami di film pertama.


Team editor

Disini kami hanya memiliki 2 orang editor. Meskipun hanya 2, itu lebih dari cukup bagi kami, karena keduanya punya keahlian yang berbeda, dan apabila saling dipadukan, kami menjadi  merasa tidak perlu lagi memerlukan editor baru. Mereka adalah Ani dan Ipan.



ANI

            Siapa yang menyangka anak rumahan seperti dia yang tidak pernah tertarik untuk mengikuti ekstrakurikuler satupun mau bergabung dengan MFC.?
Tapi tidak usah kita hiraukan, yang penting dia sudah bergabung di team.
Ani sekelas dengan Rafi, mungkin karena kerjaannya sebagai youtubers di rumah, makanya dia mempunyai keahlian dalam bidang edit-mengedit video secara autodidak.
            Dilihat dari hasil kerjanya, dia adalah orang yang teliti dan ulet. Kalian dapat membuktikannya dengan menonton film kami nanti.


IPAN

           Jika menuliskan namanya, aku akan selalu teringat saat dimana kami berdua menunggu cukup lama di dalam ruangan sembari menunggu anggota team berkumpul. Orangnya loyal dan patuh. Ngotot untuk mencoba semua jenis aplikasi yang kita butuhkan. Selalu mencoba hal hal baru dan berimajinasi tinggi hanya dengan Bermodalkan sebuah notebook yang selalu dia bawa saat team berkumpul.
Rambutnya selalu pendek, sesuai dengan kepalanya yang bulat. Kulitnya sawo matang. Dialah ipan editor kami kelas 10.3

Yang terakhir adalah

PUTRI

            Dia adalah asisten sutradara. Tapi jangan salah, dia bisa jadi penulis, kreativ atau dubber spesialis puisi.
Dia adalah satu-satunya yang berkacamata di team. Basicnya dia adalah penulis, karena dia adalah blogger. Dia sangat sering memberikan kami saran-saran dan ide secara spontan. Tapi entah kenapa terkadang dia sendiri bingung posisinya sendiri di dalam team.
Orangnya selalu berpikir masak-masak, dan penuh perhitungan. sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan di dalam team.   




Mereka semua adalah MFC. Tidak ada peresmian dalam pembentukan team kami, namun kami selalu ingat kapan team kami terbentuk. 15-5-2015. Tanggal yang bagus bukan.?
            Syuting pertama kami dimulai di rumah putri, dan syuting pertama berhasil membuat kami basah kuyup dikarenakan hujan deras. Hujan yang sangat membantu bagi kami lebih tepatnya. Dan akan menjadi cerita tersendiri bagi kami para team.
            kemudian semua mengalami perkembangan seiring jalannya waktu. Kami membuat kostum team, menambah pekerjaan dengan membuat parodi singkat, dan tentu saja pengalaman dan keahlian kami juga bertambah.
           
            Film pertama kami akhirnya jadi. Selain hasil dari jerih payah team, itu semua juga tidak lepas dari dukungan para penghujat kami. Ya, karena olokan dari merekalah yang membuat kami semakin bersemangat. Bila perlu dibagian akhir film, kami tuliskan special thanks untuk para haters kami.
            Berbicara tentang team maka tidak akan lepas dari yang namanya konflik. Baik berbeda pendapat ataupun dikarenakan psikologis dari anggota masing-masing.
Aku ingat pertama kali emosi muncul dimulai dari rafi yang saat itu kelelahan karena kami bekerja seharian. Kemudian putri yang selalu marah apabila tidak ada hal penting yang kami diskusikan. Dan beberapa pertengkaran kecil yang disebabkan oleh anggota lain.

            Tapi semua tetap merasa tidak peduli. Bagaimanapun mereka akan berbaikan sendiri. Aku yakin, sangat yakin. itulah alasannya aku tidak pernah ikut campur dan memisahkan mereka. Haha sekilas terdengar jahat, tapi percayalah, itu semua akan kami rindukan nantinya..

Pandanganku sendiri terhadap MFC tidak begitu jelas. Karena dari sana aku hanya merasakan.
Meskipun tidak ada pelantikan yang menanamkan senioritas dan kekeluargaan, tapi aku merasakan semua itu di dalam team. Bukan hanya sekedar slogan atau jargon yang diteriakkan belaka, namun mereka melakukan dengan tindakan.

Inilah MFC. Team yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Aku tidak menuntut team ini diteruskan, tapi akan sangat senang apabila hobby kami ini dijadikan ekstrakurikuler oleh sekolah kami. Aku tidak menuntut untuk meneruskan nama bahkan logo team kami. Silahkan rubah jika ingin dirubah oleh penerus selanjutnya.

Meskipun kurang dari satu tahun. Ini sangat berarti. Aku tidak menyesal mengenal mereka baru-baru ini. Karena akan lain ceritanya apabila team ini dibentuk sejak dulu. Karena aku tidak akan mengenal mereka. Andai bisa kutinggalkan penghargaan bagi mereka satu persatu. Sayangnya hanya ucapan terima kasih yang bisa aku berikan untuk team ini.

            Terimakasih team, terimakasih wempy,fajri,rafi,ogi,lhiya,rahmasiwi,tutik,ani,ipan, dan putri. Terima kasih untuk semangat, waktu dan bakat kalian. Suatu kebanggaan dapat berkumpul dan berkarya bersama kalian.
Terimakasih kalian yg telah membuat cerita tersendiri saat di masa SMA ini.
Apapun yg terjadi kedepannya, atau bahkan saat kita sukses dibidang ini nanti, tak segan untuk aku menyebutkan bahwa semuanya dimulai dari sini.

MICRO FILM COMMUNITY


Sepenggal Cerita Praja Muda Karana

            Tap… tap… tap..bunyi kaki ini  yang beradu dengan aspal jalan.
            Kaki ini masih melangkah menyusuri jalanan. Bunyi kerikil yang seolah menjerit karena terinjak olehku tak aku pedulikan sama sekali, kaki ini masih terus melangkah….

            Akhirnya, kuhentikan langkah kaki ini sesampainya aku di depan sebuah gapura  sekolah dasar. Sejenak ku pandangi gapura itu. Masih sama seperti 4 tahun yang lalu, dimana saat itu aku aku baru saja lulus dari sekolah ini.
Kupandangi lapangan sekolah itu tepat dari bawah gapura. Lapangan itu sedang dipenuhi oleh anak-anak sekolah dasar berseragam coklat dan berkalungkan dasi merah putih. Mereka semua tampak saling bekerja sama mendirikan sebuah tenda. Teriknya sinar matahari di siang hari sama sekali tidak mengganggu aktifitas mereka, mereka tetap bersemangat meski peluh bercucuran dari seluruh badan mereka. Ya… aku sedang menyaksikan perkemahan di sekolah dasarku dulu.
            Mungkin bagi sebagian orang menganggap perkemahan sekolah dasar hanyalah sebuah perkemahan biasa, tidak ada hal menarik yang dapat di lihat bahkan tak jarang ada orang yang menganggap perkemahan merupakan hal yang tidak berguna dan sia sia.
Namun tidak untukku. Perkemahan, khusunya perkemahan sekolah dasar merupakan kegiatan yang selalu menarik untuk aku lihat. Selalu ada nuansa tersendiri ketika aku melihat sebuah perkemahan.
Ya.. Itu karena dulu, aku punya cerita.. cerita menjadi seorang PRAMUKA!… seorang Praja Muda Karana!
            Melihat semangat mereka, aku jadi teringat akan pengalaman pertamaku dulu kala menjadi seorang anggota pramuka. Saat itu aku masih kelas 4 SD.
Aku masih ingat waktu itu menjelang pulang sekolah, Bu Am, guru Agama Islam masuk ke kelas kami menyampaikan sebuah pengumuman.
            “anak anak, karena akan diadakan perkemahan jambore tingkat kecamatan, sekolah kita mengadakan ekskul baru yaitu pramuka. Untuk kelas 4 tidak diwajibkan untuk ikut, namun bagi anak-anak yang ingin ikut silahkan datang nanti siang jam 14.00 mengenakan seragam pramuka. Mengerti anak-anak.?”
            “mengerti buuuuu…” jawab kami kompak.
            “hey, kamu mau datang ngga nanti.?” Tanya salah satu temanku Zendy.
            “ntalah..” ujarku
            “ah kalo aku sih malas, panas-panas, enakan tidur, lagian kelas 4 ngga di wajibkan juga kan.?” Ujar temanku yang lain.
            Aku hanya diam mendengar pernyataan temanku yang malas untuk ikut. Memang aku membenarkan ucapan temanku tersebut, tapi entah kenapa siangnya aku tetap datang ke sekolah dan akhirnya aku menjadi seorang Pramuka hingga aku menduduki jenjang SMP.

            Tiba tiba seseorang menepuk pundak ku dari belakang dan membuyarkan lamunanku.
            “sendirian kawan.?” Sapanya..
            “oh kamu yan, iya sendirian” jawabku.
            “yuk ikut aku ke meja panitia sana” ajaknya.
            “duluan aja, nanti aku menyusul” ucapku menolak ajakannya.
            “yaudah duluan ya” ujarnya dan kemudian berlalu meninggalkanku yang masih berdiri di bawah gapura.

            Dia adalah dian. Rekan seperjuanganku dulu kala kami sama sama menjadi anggota pramuka di SMP. Sekarang kami sudah pisah sekolah, karena kami sudah menjadi murid SMA.
Dahulu dia adalah anggotaku, akulah pemimpinnya. Ya, dulu aku adalah seorang pratama. Pemimpin teringgi. Namun aku sempat memberikan jabatan itu kepadanya ketika aku sudah kelas 9. Rasa tanggung jawab, setia kawan dan bakat sebagai pemimpin kala itu memang pantas untuk diacungi jempol. Aku akui dia lebih baik daripada aku untuk menjadi seorang pratama.

            Kembali kulihat lapangan itu, dan pandangan ini terhenti ketika kulihat kak Fajri, pembina pramuka ku selama SD sampai SMP. Tersenyum diriku ini kala aku melihatnya tengah memperhatikan sekaligus memberikan arahan kepada anak-anak itu. Tersenyum karena aku teringat kala aku berada di posisi anak-anak itu. Ternyata masih sama, tidak berbeda sama sekali. Gaya dan aura seorang pembina dari dalam dirinya tidak berubah sama sekali.
Beliau adalah sosok yang sangat aku segani. Seorang pembina yang luar biasa. Semua yang dia ajarkan, masih sangat berbekas di dalam diri ini. Dan aku yakin bukan hanya aku seorang, semua yang pernah menjadi muridnya pasti merasakan hal yang sama denganku.

            Aku sangat ingat, dimana dulu aku yang dianggap lemah bisa menjadi seorang pramuka yang tangguh berkat didikannya, bukan hanya seorang Pramuka, tapi seorang Pramuka sejati. Susah, senang, tertawa, menangis bersama pernah kami rasakan bersama beliau dan teman-temanku. Beliau bukan hanya pembina kami, terkadang beliau bisa menjadi seorang motivator kami, kakak, bahkan teman kami. Bukan hanya ilmu untuk kegiatan kepramukaan saja yang beliau berikan, beliau juga membekali kami ilmu untuk hidup ditengah tengah masyarakat dan cara untuk menjadi warga Negara yang baik dan berguna untuk Indonesia.
--------------------------------------
            Aku teringat, kala itu saat-saat terakhir kami mengikuti kegiatan kepramukaan sewaktu SMP, beliau memberikan sebuah pin kehormatan untuk ku dan kesembilan temanku yang lain. Saat itu entah kenapa, diri ini tidak ikhlas mendengar perkataannya yang memberikan signal perpisahan untuk kami semua. Dan saat itu juga aku bersama teman-temanku yang lain menangis di depan beliau. Mungkin dari kami bersepuluh, akulah yang menangis paling banyak. Bukan cengeng. Bukan,, sama sekali bukan karena aku cengeng, melainkan karena diri ini merasa tidak ikhlas. Bagaimana tidak.? Selama kurang lebih 6 tahun aku menjadi seorang pramuka, sudah terlalu banyak kenangan yang telah aku lalui kala menjadi seorang pramuka. Kala diri ini tidak tahu akan alam, tali temali, cara bertahan hidup, dan berkarakter menjadi seorang pramuka sejati, dan sekarang aku sudah mengetahuinya. Kala semua tawa kami, tangisan kami selama 6 tahun sebentar lagi akan hilang karena kami akan berpisah. Mana mungkin diri ini bisa menahan tangisan itu.? Mungkin kalian tidak tahu rasanya. Tapi sungguh, saat itu aku merasa sangat terpukul.
            Saat itu kami bersepuluh ditanya oleh kak Fajri. Apakah kami akan melanjutkan ilmu ke pramukaan kami saat SMA nanti. Satu persatu temanku maju kedepan untuk memberikan jawaban “Iya”. Dan ketika tiba giliranku. Entah kenapa aku mundur ke belakang dan memberikan jawaban “tidak”. Aku tidak tahu pada waktu itu, entah apa yang aku pikirkan, tapi diri ini merasa tidak lagi ingin melanjutkan pramuka jika pembina nya bukan kak Fajri.aku merasa semuanya cukup sampai disini. Mungkin masih banyak, bahkan masih sangat banyak ilmu tentang kepramukaan yang belum aku ketahui. Tapi aku rasa tidak perlu lagi untuk mengikuti kegiatan pramuka lagi. Cukuplah dengan ilmu yang diberikan oleh beliau saja. Aku merasa ilmu yang kak Fajri beri sudah cukup, bahkan sudah sangat cukup. Tidak ingin aku melanjutkan jika pembina ku bukan beliau. Mungkin pilihan ini mengecewakan beliau, entahlah, yang jelas aku menolak untuk melanjutkan merupakan salah satu bentuk penghormatanku kepada beliau. Dan sampai saat ini aku telah tiba di jenjang kelas 11 SMA, dan sampai saat ini juga tidak pernah aku menilai keputusanku pada saat itu salah, meskipun seharusnya itu salah.

            Kulihat orang-orang yang berdiri di sekitar kak fajri, yang tidak lain mereka adalah rekan seperjuanganku dahulu di SMP. Ya, mereka yang melanjutkan pramuka di SMA sudah menyandang gelar penegak. Semua sudah mengenakan bet bantara itu. Bet yang dulu pernah menjadi impianku. Namun setalah SMP aku tidak menginginkannya lagi. Cukuplah melihat mereka mengenakannya aku sudah senang, bukan hanya senang, bahkan bangga karena aku melihat mereka bisa berhasil dan sukses layaknya sewaktu SMP dulu.

            Aku sangat bangga dengan rekan-rekanku. Bagaimana tidak, selama mengikuti perlombaan kepramukaan baik semasa SD maupun SMP, kami selalu mendapatkan juara satu. Tentunya semua itu tidak lepas dari kerja keras kak Fajri yang selalu melatih kami. Aku ingat kembali, beliau tidak pernah menuntut kami juara, hanya menyuruh kami untuk memberikan yang terbaik dan mengikuti semua perlombaan dengan bersenang senang. untuk apa juara tapi kami menjadi sombong dan bangga hanya karena sebuah kemenangan. Jadi jika kami juara pun beliau melarang kami untuk bangga dan menyombongkan diri.

            ah, betapa bangganya aku pernah menjadi seorang Pramuka. Pramuka yang sejati, selalu bersahaja. Pramuka yang selalu mengamalkan tri satya dan dasa darma. Pramuka yang ikhlas bakti bina bangsa berbudi bawa laksana.
Percayalah, sekarang mungkin aku bukan lagi seorang anggota pramuka, tapi selamanya aku tetap berdarah seorang pramuka. Aku masih ingat, tidak akan pernah lupa bagaimana tali temali, simpul pangkal, rantai mati,hidup,anyam,anyam berganda,tambat,jangkar,tiang. Sampai sekarang aku masih ingat cara membuat semua simpul itu. Aku masih ingat malam pelantikan menjadi seorang ramu kala aku SD, aku masih ingat betapa susahnya mendaki bukit cogong dan botak, masih ingat semua perkemahan yang aku ikuti, masih ingat dengan semua teman yang pernah satu tim denganku, masih ingat cara mendirikan tenda, membuat tandu, dan masih ingat cara bertahan hidup survival di alam. Aku masih ingat merindingnya bahkan hampir menitikkan air mata kala hormat kepada sang saka merah putih di atas bukit botak. Aku masih ingat.

            Hujan rintik-rintik tiba-tiba saja jatuh dari langit dan membuyarkan lamunanku. Kupandangi seluruh lapangan, semua menjadi sibuk karena hujan. Dan aku pun memutuskan untuk pulang, tidak jadi menyusul Dian ke meja panitia.
           
            Aku berjalan menembus hujan. Dan kembali aku terseyum ketika aku teringat ketika aku hujan-hujanan saat mengikuti kegiatan pramuka. Mungkin saat ini hujan mengingatkanku agar meminta ku untuk kembali berkalungkan dasi merah putih dan menjadi seorang pramuka. Tapi aku tidak menghiraukan hujan. Kaki ini terus melangkah dan seolah memberikan signal kepada langit, bahwa aku, tidak akan kembali…
SALAM PRAMUKA……


******************