Tap… tap…
tap..bunyi kaki ini yang beradu dengan
aspal jalan.
Kaki ini
masih melangkah menyusuri jalanan. Bunyi kerikil yang seolah menjerit karena
terinjak olehku tak aku pedulikan sama sekali, kaki ini masih terus melangkah….
Akhirnya,
kuhentikan langkah kaki ini sesampainya aku di depan sebuah gapura sekolah dasar. Sejenak ku pandangi gapura itu.
Masih sama seperti 4 tahun yang lalu, dimana saat itu aku aku baru saja lulus
dari sekolah ini.
Kupandangi lapangan sekolah itu tepat dari bawah gapura.
Lapangan itu sedang dipenuhi oleh anak-anak sekolah dasar berseragam coklat dan
berkalungkan dasi merah putih. Mereka semua tampak saling bekerja sama
mendirikan sebuah tenda. Teriknya sinar matahari di siang hari sama sekali
tidak mengganggu aktifitas mereka, mereka tetap bersemangat meski peluh
bercucuran dari seluruh badan mereka. Ya… aku sedang menyaksikan perkemahan di
sekolah dasarku dulu.
Mungkin
bagi sebagian orang menganggap perkemahan sekolah dasar hanyalah sebuah
perkemahan biasa, tidak ada hal menarik yang dapat di lihat bahkan tak jarang
ada orang yang menganggap perkemahan merupakan hal yang tidak berguna dan sia
sia.
Namun tidak untukku. Perkemahan, khusunya perkemahan sekolah
dasar merupakan kegiatan yang selalu menarik untuk aku lihat. Selalu ada nuansa
tersendiri ketika aku melihat sebuah perkemahan.
Ya.. Itu karena dulu, aku punya cerita.. cerita menjadi
seorang PRAMUKA!… seorang Praja Muda Karana!
Melihat
semangat mereka, aku jadi teringat akan pengalaman pertamaku dulu kala menjadi
seorang anggota pramuka. Saat itu aku masih kelas 4 SD.
Aku masih ingat waktu itu menjelang pulang sekolah, Bu Am,
guru Agama Islam masuk ke kelas kami menyampaikan sebuah pengumuman.
“anak anak,
karena akan diadakan perkemahan jambore tingkat kecamatan, sekolah kita
mengadakan ekskul baru yaitu pramuka. Untuk kelas 4 tidak diwajibkan untuk
ikut, namun bagi anak-anak yang ingin ikut silahkan datang nanti siang jam
14.00 mengenakan seragam pramuka. Mengerti anak-anak.?”
“mengerti
buuuuu…” jawab kami kompak.
“hey, kamu
mau datang ngga nanti.?” Tanya salah satu temanku Zendy.
“ntalah..”
ujarku
“ah kalo
aku sih malas, panas-panas, enakan tidur, lagian kelas 4 ngga di wajibkan juga
kan.?” Ujar temanku yang lain.
Aku hanya
diam mendengar pernyataan temanku yang malas untuk ikut. Memang aku membenarkan
ucapan temanku tersebut, tapi entah kenapa siangnya aku tetap datang ke sekolah
dan akhirnya aku menjadi seorang Pramuka hingga aku menduduki jenjang SMP.
Tiba tiba seseorang
menepuk pundak ku dari belakang dan membuyarkan lamunanku.
“sendirian
kawan.?” Sapanya..
“oh kamu
yan, iya sendirian” jawabku.
“yuk ikut
aku ke meja panitia sana” ajaknya.
“duluan
aja, nanti aku menyusul” ucapku menolak ajakannya.
“yaudah
duluan ya” ujarnya dan kemudian berlalu meninggalkanku yang masih berdiri di
bawah gapura.
Dia adalah
dian. Rekan seperjuanganku dulu kala kami sama sama menjadi anggota pramuka di
SMP. Sekarang kami sudah pisah sekolah, karena kami sudah menjadi murid SMA.
Dahulu dia adalah anggotaku, akulah pemimpinnya. Ya, dulu
aku adalah seorang pratama. Pemimpin teringgi. Namun aku sempat memberikan
jabatan itu kepadanya ketika aku sudah kelas 9. Rasa tanggung jawab, setia
kawan dan bakat sebagai pemimpin kala itu memang pantas untuk diacungi jempol.
Aku akui dia lebih baik daripada aku untuk menjadi seorang pratama.
Kembali
kulihat lapangan itu, dan pandangan ini terhenti ketika kulihat kak Fajri,
pembina pramuka ku selama SD sampai SMP. Tersenyum diriku ini kala aku
melihatnya tengah memperhatikan sekaligus memberikan arahan kepada anak-anak
itu. Tersenyum karena aku teringat kala aku berada di posisi anak-anak itu. Ternyata
masih sama, tidak berbeda sama sekali. Gaya dan aura seorang pembina dari dalam
dirinya tidak berubah sama sekali.
Beliau adalah sosok yang sangat aku segani. Seorang pembina
yang luar biasa. Semua yang dia ajarkan, masih sangat berbekas di dalam diri
ini. Dan aku yakin bukan hanya aku seorang, semua yang pernah menjadi muridnya
pasti merasakan hal yang sama denganku.
Aku sangat
ingat, dimana dulu aku yang dianggap lemah bisa menjadi seorang pramuka yang
tangguh berkat didikannya, bukan hanya seorang Pramuka, tapi seorang Pramuka
sejati. Susah, senang, tertawa, menangis bersama pernah kami rasakan bersama
beliau dan teman-temanku. Beliau bukan hanya pembina kami, terkadang beliau
bisa menjadi seorang motivator kami, kakak, bahkan teman kami. Bukan hanya ilmu
untuk kegiatan kepramukaan saja yang beliau berikan, beliau juga membekali kami
ilmu untuk hidup ditengah tengah masyarakat dan cara untuk menjadi warga Negara
yang baik dan berguna untuk Indonesia.
--------------------------------------
Aku teringat,
kala itu saat-saat terakhir kami mengikuti kegiatan kepramukaan sewaktu SMP,
beliau memberikan sebuah pin kehormatan untuk ku dan kesembilan temanku yang
lain. Saat itu entah kenapa, diri ini tidak ikhlas mendengar perkataannya yang
memberikan signal perpisahan untuk kami semua. Dan saat itu juga aku bersama
teman-temanku yang lain menangis di depan beliau. Mungkin dari kami bersepuluh,
akulah yang menangis paling banyak. Bukan cengeng. Bukan,, sama sekali bukan
karena aku cengeng, melainkan karena diri ini merasa tidak ikhlas. Bagaimana
tidak.? Selama kurang lebih 6 tahun aku menjadi seorang pramuka, sudah terlalu
banyak kenangan yang telah aku lalui kala menjadi seorang pramuka. Kala diri
ini tidak tahu akan alam, tali temali, cara bertahan hidup, dan berkarakter
menjadi seorang pramuka sejati, dan sekarang aku sudah mengetahuinya. Kala semua
tawa kami, tangisan kami selama 6 tahun sebentar lagi akan hilang karena kami
akan berpisah. Mana mungkin diri ini bisa menahan tangisan itu.? Mungkin kalian
tidak tahu rasanya. Tapi sungguh, saat itu aku merasa sangat terpukul.
Saat itu
kami bersepuluh ditanya oleh kak Fajri. Apakah kami akan melanjutkan ilmu ke
pramukaan kami saat SMA nanti. Satu persatu temanku maju kedepan untuk
memberikan jawaban “Iya”. Dan ketika tiba giliranku. Entah kenapa aku mundur ke
belakang dan memberikan jawaban “tidak”. Aku tidak tahu pada waktu itu, entah
apa yang aku pikirkan, tapi diri ini merasa tidak lagi ingin melanjutkan
pramuka jika pembina nya bukan kak Fajri.aku merasa semuanya cukup sampai
disini. Mungkin masih banyak, bahkan masih sangat banyak ilmu tentang kepramukaan
yang belum aku ketahui. Tapi aku rasa tidak perlu lagi untuk mengikuti kegiatan
pramuka lagi. Cukuplah dengan ilmu yang diberikan oleh beliau saja. Aku merasa
ilmu yang kak Fajri beri sudah cukup, bahkan sudah sangat cukup. Tidak ingin
aku melanjutkan jika pembina ku bukan beliau. Mungkin pilihan ini mengecewakan
beliau, entahlah, yang jelas aku menolak untuk melanjutkan merupakan salah satu
bentuk penghormatanku kepada beliau. Dan sampai saat ini aku telah tiba di
jenjang kelas 11 SMA, dan sampai saat ini juga tidak pernah aku menilai
keputusanku pada saat itu salah, meskipun seharusnya itu salah.
Kulihat
orang-orang yang berdiri di sekitar kak fajri, yang tidak lain mereka adalah
rekan seperjuanganku dahulu di SMP. Ya, mereka yang melanjutkan pramuka di SMA
sudah menyandang gelar penegak. Semua sudah mengenakan bet bantara itu. Bet yang
dulu pernah menjadi impianku. Namun setalah SMP aku tidak menginginkannya lagi.
Cukuplah melihat mereka mengenakannya aku sudah senang, bukan hanya senang,
bahkan bangga karena aku melihat mereka bisa berhasil dan sukses layaknya
sewaktu SMP dulu.
Aku sangat
bangga dengan rekan-rekanku. Bagaimana tidak, selama mengikuti perlombaan
kepramukaan baik semasa SD maupun SMP, kami selalu mendapatkan juara satu. Tentunya
semua itu tidak lepas dari kerja keras kak Fajri yang selalu melatih kami. Aku
ingat kembali, beliau tidak pernah menuntut kami juara, hanya menyuruh kami
untuk memberikan yang terbaik dan mengikuti semua perlombaan dengan bersenang
senang. untuk apa juara tapi kami menjadi sombong dan bangga hanya karena
sebuah kemenangan. Jadi jika kami juara pun beliau melarang kami untuk bangga
dan menyombongkan diri.
ah, betapa
bangganya aku pernah menjadi seorang Pramuka. Pramuka yang sejati, selalu bersahaja.
Pramuka yang selalu mengamalkan tri satya dan dasa darma. Pramuka yang ikhlas
bakti bina bangsa berbudi bawa laksana.
Percayalah, sekarang mungkin aku bukan lagi seorang anggota
pramuka, tapi selamanya aku tetap berdarah seorang pramuka. Aku masih ingat,
tidak akan pernah lupa bagaimana tali temali, simpul pangkal, rantai
mati,hidup,anyam,anyam berganda,tambat,jangkar,tiang. Sampai sekarang aku masih
ingat cara membuat semua simpul itu. Aku masih ingat malam pelantikan menjadi
seorang ramu kala aku SD, aku masih ingat betapa susahnya mendaki bukit cogong
dan botak, masih ingat semua perkemahan yang aku ikuti, masih ingat dengan
semua teman yang pernah satu tim denganku, masih ingat cara mendirikan tenda, membuat
tandu, dan masih ingat cara bertahan hidup survival di alam. Aku masih ingat
merindingnya bahkan hampir menitikkan air mata kala hormat kepada sang saka
merah putih di atas bukit botak. Aku masih ingat.
Hujan
rintik-rintik tiba-tiba saja jatuh dari langit dan membuyarkan lamunanku.
Kupandangi seluruh lapangan, semua menjadi sibuk karena hujan. Dan aku pun
memutuskan untuk pulang, tidak jadi menyusul Dian ke meja panitia.
Aku
berjalan menembus hujan. Dan kembali aku terseyum ketika aku teringat ketika
aku hujan-hujanan saat mengikuti kegiatan pramuka. Mungkin saat ini hujan
mengingatkanku agar meminta ku untuk kembali berkalungkan dasi merah putih dan
menjadi seorang pramuka. Tapi aku tidak menghiraukan hujan. Kaki ini terus
melangkah dan seolah memberikan signal kepada langit, bahwa aku, tidak akan
kembali…
SALAM PRAMUKA……
******************

0 Komentar