My Trip, My Story (2)

Kali ini adalah ceritaku kala sedang melakukan perjalanan sendirian dari Jakarta menuju Kebumen. Tujuanku adalah rumah nenek. Saat itu aku masih kelas 8 SMP.
           
            Perjalanan aku tempuh sekitar 7 jam dengan kereta api, dan selama perjalanan itulah kembali muncul sebuah cerita berharga…

####

            Perjalanan awal dimulai dari stasiun Pasar Senen. Tepatnya pukul 07.00 WIB.
Sejenak tidak ada hal yang menarik di awal-awal perjalanan kereta. Dari balik jendela gerbong, aku hanya melihat gedung-gedung tinggi Jakarta dan beberapa pemukiman liar nan kumuh. Ditambah lagi tidak ada orang disebelahku. Entah kenapa gerbong kereta kali ini sepi penumpang, mungkin dikarenakan belum tibanya musim liburan.

            Perjalanan yang cenderung membosankan membuat beberapa penumpang memilih untuk langsung tidur. Begitupula denganku, apalagi posisiku menguasai satu kursi penuh karena tidak ada yang duduk disebelahku. Alhasil aku pun tidur dengan leluasa.

            Tiba di pemberhentian pertama, sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di stasiun Cirebon. Akupun terbangun karena suasana kereta tiba-tiba hening. Namun tidak lama, karena tiba-tiba saja gerombolan pedagang asongan masuk ke gerbong kereta dan mulai berteriak menjajakan barang dagangannya.
Beberapa penumpang lain ikut terjaga dari tidur mereka, dikarenakan teriakan para pedagang asongan yang bersuara dengan intonasi yang cepat namun nyaring. Nyaris berteriak.
Tentu saja begitu, karena mereka harus beradu cepat dengan waktu. Kereta yang hanya berhenti sekitar 10 menitan inilah yang menjadi harapan mereka untuk mencari sesuap nasi.

            Cara mereka menjajakan barang dagangan mereka pun berbeda-beda, ada yang menawarkan kepada para pembeli satu persatu, ada juga yang meletakkan barang dagangan mereka ke meja penumpang untuk kemudian diambil kembali saat kereta sudah akan berangkat. Berharap para penumpang ada yang tertarik tanpa harus menawarkannya satu persatu kepada penumpang.
Barang yang dijajakan pun beraneka macam, mulai dari makanan hingga peralatan rumah tangga.

            Pemandangan ini sebenarnya cukup unik, namun juga menyakitkan. Apalagi melihat beberapa dari mereka ada yang membawa anak kecil. Dan tak jarang pula sebagian pedagang memiliki cacat fisik. Maka ketika melihat mereka berdesak-desakan dengan padagang lain membuat hati ini pilu.

            “minumnya dek.?” Ujar seorang ibu-ibu pedagang menawarkan minuman yang ia jual padaku.
            “ndak bu, terimakasih, sudah ada” ujarku sambil sedikit mengangkat tangan. Lalu ia pun segera berlalu untuk menawarkan kepada penumpang lain.

            Akhirnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan. Alhasil semua pedagang pun segera keluar dari gerbong kereta dan menunggu kereta selanjutnya yang berhenti.

            Kereta kembali melaju kencang melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Dan ketika tiba di stasiun tempat pemberhentian selanjutnya, suasana yang terlihat nyaris sama seperti saat kereta berhenti di stasiun Cirebon. Bahkan karena gerbong tidak muat lagi, beberapa penjual tetap menawarkan barang dagangan mereka kepada penumpang  lewat luar gerbong. Dan transaksi dilakukan lewat kaca jendela.

            Kereta terus melaju hingga akupun akhirnya sampai di stasiun kebumen sekitar pukul 14.00 WIB.
######


            Melihat semua ini membuat aku berpikir, betapa susahnya untuk mencari nafkah. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk mengetahui akan hal ini, namun aku tau bahwa hidup ini keras, tidak bekerja berarti tidak makan. Dan jika nanti kedepannya pihak kereta api melarang para pedagang asongan untuk berdagang demi kenyamanan penumpang baik di gerbong kereta maupun di stasiun, lantas bagaimana nasib mereka yang selama ini bergantung kepada kereta yang berhenti.?
Previous
Next Post »
0 Komentar