Kali ini adalah ceritaku kala sedang
melakukan perjalanan sendirian dari Jakarta menuju Kebumen. Tujuanku adalah
rumah nenek. Saat itu aku masih kelas 8 SMP.
Perjalanan aku tempuh sekitar 7 jam
dengan kereta api, dan selama perjalanan itulah kembali muncul sebuah cerita
berharga…
####
Perjalanan awal dimulai dari stasiun
Pasar Senen. Tepatnya pukul 07.00 WIB.
Sejenak
tidak ada hal yang menarik di awal-awal perjalanan kereta. Dari balik jendela
gerbong, aku hanya melihat gedung-gedung tinggi Jakarta dan beberapa pemukiman
liar nan kumuh. Ditambah lagi tidak ada orang disebelahku. Entah kenapa gerbong
kereta kali ini sepi penumpang, mungkin dikarenakan belum tibanya musim
liburan.
Perjalanan yang cenderung
membosankan membuat beberapa penumpang memilih untuk langsung tidur. Begitupula
denganku, apalagi posisiku menguasai satu kursi penuh karena tidak ada yang
duduk disebelahku. Alhasil aku pun tidur dengan leluasa.
Tiba di pemberhentian pertama,
sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di stasiun Cirebon. Akupun terbangun karena
suasana kereta tiba-tiba hening. Namun tidak lama, karena tiba-tiba saja
gerombolan pedagang asongan masuk ke gerbong kereta dan mulai berteriak
menjajakan barang dagangannya.
Beberapa
penumpang lain ikut terjaga dari tidur mereka, dikarenakan teriakan para
pedagang asongan yang bersuara dengan intonasi yang cepat namun nyaring. Nyaris
berteriak.
Tentu
saja begitu, karena mereka harus beradu cepat dengan waktu. Kereta yang hanya
berhenti sekitar 10 menitan inilah yang menjadi harapan mereka untuk mencari
sesuap nasi.
Cara mereka menjajakan barang
dagangan mereka pun berbeda-beda, ada yang menawarkan kepada para pembeli satu
persatu, ada juga yang meletakkan barang dagangan mereka ke meja penumpang
untuk kemudian diambil kembali saat kereta sudah akan berangkat. Berharap para
penumpang ada yang tertarik tanpa harus menawarkannya satu persatu kepada
penumpang.
Barang
yang dijajakan pun beraneka macam, mulai dari makanan hingga peralatan rumah
tangga.
Pemandangan ini sebenarnya cukup
unik, namun juga menyakitkan. Apalagi melihat beberapa dari mereka ada yang
membawa anak kecil. Dan tak jarang pula sebagian pedagang memiliki cacat fisik.
Maka ketika melihat mereka berdesak-desakan dengan padagang lain membuat hati
ini pilu.
“minumnya dek.?” Ujar seorang
ibu-ibu pedagang menawarkan minuman yang ia jual padaku.
“ndak bu, terimakasih, sudah ada” ujarku sambil
sedikit mengangkat tangan. Lalu ia pun segera berlalu untuk menawarkan kepada
penumpang lain.
Akhirnya terdengar pemberitahuan
bahwa kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan. Alhasil semua pedagang
pun segera keluar dari gerbong kereta dan menunggu kereta selanjutnya yang berhenti.
Kereta kembali melaju kencang
melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Dan ketika tiba di stasiun tempat
pemberhentian selanjutnya, suasana yang terlihat nyaris sama seperti saat kereta
berhenti di stasiun Cirebon. Bahkan karena gerbong tidak muat lagi, beberapa
penjual tetap menawarkan barang dagangan mereka kepada penumpang lewat luar
gerbong. Dan transaksi dilakukan lewat kaca jendela.
Kereta terus melaju hingga akupun
akhirnya sampai di stasiun kebumen sekitar pukul 14.00 WIB.
######
Melihat semua ini membuat aku
berpikir, betapa susahnya untuk mencari nafkah. Mungkin aku masih terlalu kecil
untuk mengetahui akan hal ini, namun aku tau bahwa hidup ini keras, tidak
bekerja berarti tidak makan. Dan jika nanti kedepannya pihak kereta api
melarang para pedagang asongan untuk berdagang demi kenyamanan penumpang baik
di gerbong kereta maupun di stasiun, lantas bagaimana nasib mereka yang selama
ini bergantung kepada kereta yang berhenti.?
0 Komentar