Trip to Merbabu

Jika kalian bertanya darimana perjalanan ini dimulai, saya tidak cukup yakin darimana.  Karena memang banyak hal yang mendorong saya untuk dapat melakukan perjalanan mendaki gunung. Entah itu sejak pertama kali saya mendaki bukit saat masih menjadi anggota pramuka, hobby travelling, atau bahkan terpengaruh film 5 cm yang memang menjadikan trend baru bagi anak-anak muda seperti saya ini untuk mendaki dan mencintai alam.
Perjalanan ini saya lakukan setelah uts semester genap beberapa waktu yang lalu. Jam istirahat seperti biasa, berkumpul di ruang makan bersama teman dan ide itu tiba seketika.
 Awalnya saya hanya mengatakan bahwa saya ingin berkemah, tidak terlalu mementingkan dimana tempatnya. Namun ketika ditanya dimana, spontan saya mengutarakan, “Bagaimana jika di gunung?” dan mereka semua setuju. Saya menyarankan untuk ke merbabu. Jujur saja saya belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Hanya bermodalkan pengalaman menaiki beberapa bukit di daerahku saja, saya langsung berani untuk mengatakan gunung merbabu. Gila? Anggap saja demikian.

Percaya atau tidak, 3  hari kemudian kami benar-benar melakukannya. UTS selesai, dan hari itu juga-lah kami memutuskan untuk berangkat ke merbabu.
Memang dari awal ini merupakan rencana nekad, kami tidak tahu dimana itu merbabu, dan ketika melakukan pencarian di internet pun kami kebingungan untuk memilih jalur, karena menurut informasi di internet, terdapat 4 jalur berbeda untuk memulai pendakian.
Dengan penuh pertimbangan kami memutuskan untuk memilih rute pedakian jalur Selo, Boyolali.

Pulang kuliah kami mempersiapkan semua perlengkapan, hingga akhirnya sore hari sesudah ashar, kami berangkat. Bermodalkan maps, kami akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Perjalanan yang panjang, namun tidak berasa melelahkan karena suasana yang memang sangat nyaman untuk dinikmati.
Meskipun beberapa kali salah jalur, (lupakan keakuratan maps di daerah pedesaan) namun akhirnya kami tiba di pos pendakian milik pak Bari.

Kami disambut dengan hangat, dan beliau mempersilahkan kami beristirahat sebelum memulai pendakian.
Pos pendakian ini sangat nyaman, dan cukup memiliki persediaan yang lengkap. Setelah shalat magrib, kami beristirahat sejenak sembari meluruskan otot.
Meskipun menyenangkan, perjalanan hampir 3 jam dengan sepeda motor tetaplah membuat urat syaraf kami tegang. Setelah men-charge energi dengan nasi soto buatan istri pak Bari, kami pun memulai pendakian pada pukul 8 malam.

Perjalanan kami dimulai dengan pendataan jumlah anggota di pos penjagaan. Oh iya awalnya kami berangkat berlima, sebelum akhirnya kami mengajak satu orang di pos pak Bari untuk bergabung karena dia sendirian. Imam namanya, siswa kelas 11 SMA yang melakukan pendakian seorang diri ke merbabu dan merapi ditengah libur UN kelas 12.
Dan akhirnya aku sadar jika ada yang lebih gila dibandingkan kami berlima. But,its ok, dia dengan senang hati dia ikut bergabung karena ini juga merupakan pengalaman pertamanya ke Merbabu.



Perjalanan malam kami penuh dengan moment yang berkesan. Mulai dari salah satu anggota kami yang drop karena kelelahan. Mungkin karena dia membawa beban yang terlalu berat, (tas carier dengan semua perlengkapan berkemah dan beberapa bekal) akhirnya kami silih berganti membawa tas tersebut sampai ke pos perkemahan.

Semakin ke atas, nafas kami semakin deras mengeluarkan asap, suhu 11 derajat celcius cukup membuat badan kami bergetar jika beristirahat terlalu lama, namun membuat terlalu lelah jika terus melakukan pendakian. Dan lagi-lagi salah satu anggota kami mengalami kelelahan.

Jika kalian bertanya darimana mereka mendapatkan kembali energinya untuk melanjutkan pendakian, mungkin satu-satunya alasan yang kuat adalah rasa penasaran untuk sampai di puncak jawabannya. Apalagi saat sudah setengah perjalanan kami melihat lampu-lampu di bawah berkelip layaknya bintang, ah sungguh pemandangan seperti itu sontak mampu membakar semangat kami untuk terus melangkah.

Perpaduan yang tepat antara kapan harus beristirahat dan kapan harus melakukan perjalanan yang baik membuat tenaga kami benar-benar terjaga secara pas. Meski akhirnya kejadian kram di betis kanan akhirnya menimpa saya. Mungkin karena terlalu bersemangat karena tinggal beberapa langkah lagi tiba di pos perkemahan, disamping membawa tas terberat dengan durasi yang cukup lama, membuat teriakan kesakitan saya menjadi akhir perjalanan kami di malam hari. Waktu menunjukan pukul 2 pagi.

Teman-teman saya langsung mendirikan tenda, tapi tidak dengan saya, kram yang terjadi tidak dapat membuat saya berdiri, jadi setelah tayamum dan shalat, saya langsung berkepompong di sleeping bag.
Malam yang terlalu dingin ternyata membuat kami susah untuk tidur, akhirnya kami menyalakan kompor dan memasak persediaan mie instan untuk penghangat tubuh. Barulah kami semua dapat tertidur.

Pagi tiba, beberapa pendaki lainnya yang tiba lebih awal melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi pada pukul 3 pagi, mereka semua mengejar sunrise di puncak. Namun tidak dengan kami. Karena baru saja tiba, kami memutuskan untuk tetap di puncak pos pendakian dan memilih menikmati sunrise dari puncak kami berada sekarang. Pos pendakian adalah pos 3 yang sudah merupakan puncak, namun bukanlah puncak tertinggi. Masih perlu 3 jam perjalanan lagi sebelum sampai di puncak tertinggi.

Pagi tiba. Pagi pertama saya di atas awan. So awesome. Sinar matahari pagi mampu berikan semangat dan motivasi untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak.
Hanya 3 orang dari kami yang melanjutkan perjalanan. 2 teman saya memilih untuk tinggal di tenda. Apa hendak dikata. Kami bertiga melanjutkan ke sabana 1 dan 2 bertiga. Hanya dengan membawa botol minum dan kamera.
 Namun sayangnya salah satu teman saya tidak mampu menghadapi tekanan udara di atas yang semakin menipis, alhasil temanku turun, dan kami hanya melanjutkan perjalanan berdua.

Tiba di sabana, barulah saya sadar bahwa sabana bukanlah fairy tale. Apa yang saya saksikan di TV, dan apa yang saya baca mengenai sabana saat itu sungguh benar wujudnya. Sedikit kekecewaan karena pada saat itu sabana yang berisikan juga kebun edelweiss sedang tidak berbunga lebat. Namun tetap tidak mengurangi indahnya sabana gunung merbabu.

Perjalanan 3 jam ternyata membuat persediaan yang kami bawa tidak cukup, saya yang tidak bisa berhenti terlalu lama karena takut akan kembali mengencangkan otot-otot di betis saya pun jauh meninggalkan teman saya di belakang. Alhasil saya tinggalkan minuman saya dari atas untuk teman saya, dan saya meneruskan perjalanan sambil berharap bertemu pendaki lainnya. Beruntung saat itu ada beberapa orang yang sedang turun, tanpa malu saya meminta persediaan mereka, dan tentu saja sesama pendaki dengan senang hati mereka membantu. Mereka memang hanya memberikan minum dan roti, namun rasanya jauh dari itu. Kalian akan tahu bagaimana rasanya nanti jika berada di posisi saya. Atau kalian sudah pernah merasakannya.? Rasa kepedulian yang indah bukan?
Tidak perlu bertanya apa suku bahasa, ras maupun agama. Rasa kekeluargaan di atas gunung terasa amat indah dan tulus.

Akhirnya saya tiba di puncak. 30 menit lebih dahulu dari teman saya. Saya berani meninggalkan nya karena selain alasan kaki saya yang tidak bisa berhenti terlalu lama, rute yang jelas dan banyak pendaki yang lain menjadikan saya berani melangkah duluan.
Di puncak juga menyadarkan saya kenapa banyak orang menangis setelah sampai di puncak. Namun saya terlalu lelah bahkan untuk mengeluarkan air mata saja tidak bisa. Perjalanan 14 jam mendapat balasan yang jauh lebih berarti. Indah.? Tentu saja semua orang tau kalau puncak adalah tempat yang indah. Namun bukan saja indah. Pengalaman dan pelajaran yang mahal saya dapatkan disini, tidak hanya saya, tetapi kami semua.


Kami berdua kembali turun pukul 11.30 dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, perjalanan turun terasa sangat menyenangkan, kaki terasa jauh lebih ringan. Tentu saja, karena jalur sekarang tidak lagi mendaki.
Indahnya sabana membuat kami kembali berhenti untuk menikmati suasana yang entah kapan akan kami dapatkan kembali.

Pukul satu siang kami sudah sampai kembali di tenda. Teman-teman di tenda berebut mengambil kamera yang saya bawa untuk melihat bagaimana suasana di atas. Melihat mereka seperti itu sebenarnya sangat disayangkan, cukup sedih rasanya kami tidak bisa berada di puncak bersama. Tapi apa daya, perjalanan mendaki memang butuh pengorbanan jika memang harus berkorban. Seperti misalnya pengorbanan aron dan royce.
aron harus memutus tangannya sendiri yang terjepit batu karena pertolongan tak kunjung tiba. Atau Royce di film vertical Limit yang harus memutus tali yang terhubung dengan kedua anaknya.

 Maybe next time kami akan berada satu puncak tertinggi bersama.

Pukul 3 sore kami turun, beberapa ekor monyet melepas kepergian kami dengan wajah sedih. Perjalanan turun ternyata jauh lebih menyenangkan lagi, karena saat malam kita mendaki, kita tidak bisa melihat jelas panorama yang disuguhkan sepanjang jalur pendakian selo.

Di perjalanan pulang kami berpapasan cukup banyak pendaki yang baru akan memulai pendakiannya, maklum karena saat itu adalah posisi weekend. Jadi jalur pendakian cukup ramai. Oh iya kami berpisah dengan imam yang langsung mengambil rute pendakian ke merapi. Entah bagaimana hasilnya karena kami tidak saling bertukar kontak, namun kami berikan doa terbaik untuk perjalanannya ke merapi.

Kami sampai di pos pendakian pak Bari saat magrib, dan pulang ke Yogyakarta pukul 8. Berbeda dengan perjalanan ke selo, rute pulang ke Yogyakarta dapat kami tempuh hanya dalam waktu 2 jam.

Boleh dibilang perjalanan kami sangat singkat, tidak sampai memakan waktu 30 jam, kami sudah kembali di yogyakarta. Namun pengalaman yang kami dapatkan selama kurang dari 30 jam ini akan kami ingat sepanjang hidup kami.

Boleh dibilang juga tidak semua dari kami sampai di puncak tertinggi, namun kami berlima sukses untuk turun dan kembali ke Yogyakarta dengan selamat secara bersama. Bukankah tujuan utama dari mendaki untuk dapat kembali turun.?

At last ini bukanlah akhir, kami berencana untuk terus mencintai alam di negeri ini, baik bersama maupun tidak, baik dengan mendaki gunung ataupun tidak. Yang jelas ini bukanlah akhir. Terima kasih sebesar-besarnya teruntuk teman-teman
Irvan, togar, zein, dan eza.
Cerita di merbabu bersama kalian tidak akan pernah mati!



                                                                        Perjalanan ke puncak merbabu, 12-13 April 2017








Speech about "bad habits in our class"

Speech about "bad habits in our class"
Dear ladies and gentlemen, ,
At first time let we thank to Allah SWT who has given us healthy and opportunity so we can meet in this special moment. Don’t forget our regards to our prophet Muhammad SAW who has brought us from the darkness to the lightness.

            I’m so proud I can stand up in front of you all to speech about education in our country as globally, especially I want to talk about our habit in study system. 

            As we know our governments have worked hard to increase our education in Indonesia. A lot of program they have done, such as repair UN system, that every year it must have been changed to be better. Built new school and repair it in deep village, increase teacher’s salary, give a lot of scholarship to achievement student and poor one. Walk library, And the most important donation of APBN for education is 20%. It all approve that our government is very-very care about education. For the sample in our province, now for study at secondary school until high school is free, isn’t it??

            But why, some people still say that our education is decrease beside our government program?? The answer is “don’t judge our government, but let’s correct yourself. What’s wrong with you??”  Have you use all facilities that have given?? Have you study well??

            My father always said that no body’s stupid, it’s only lazy boy. We all usually study only if we have homework and tomorrow will examination, right??Worst we’ll cheat if we have homework and examination. Why do we have cheating habits?? Because we don’t believe our ability and we only care about our value. So we try another way to get top rank, without care about knowledge that we can get.

 And then, we usually get the lesson and information just from the teacher. Although there a lot of resource to get it. Good student is student who study first before get lesson from their teacher.  How about we as student try to change that bad habit? From now, let’s study every day although just 30 minutes in the night, leave cheat habit because it only make our brain is lazier and get nothing. Who will be the next government if it’s not us, if we usually cheat in our job, it will be bad habit until in the future. Change our mind set, value is important, but the most important is knowledge,, it’s useless if we get top rank but we don’t know anything, because all we get from cheating. Believe yourself, if other people can do it, why do we can??  So from now promise to yourself  “Stop Cheating, Throw away laziness” agree??


            But if we have wishes, our parents and teacher don’t support of course it all is useless. So support of teacher like caring about ability are had by their students , and also parents that care about education and watch out about their children’s timing is very-very important.


            Beside we change our bad habits, we have to smart to use facilities that exist. Use all technology for education. Such as in globalization era right now, internet is useful. We can browse information and task from the teacher easily.

            So from now, believe that we can change to be better. Our future is in our hand. Let’s say “good bye cheating and laziness”


            Ok,, I think that’s all. Thank you for the attention, I’m sorry if  I have made mistake see you later in other time, other place and other moment.

My Trip, My Story (2)

My Trip, My Story (2)
Kali ini adalah ceritaku kala sedang melakukan perjalanan sendirian dari Jakarta menuju Kebumen. Tujuanku adalah rumah nenek. Saat itu aku masih kelas 8 SMP.
           
            Perjalanan aku tempuh sekitar 7 jam dengan kereta api, dan selama perjalanan itulah kembali muncul sebuah cerita berharga…

####

            Perjalanan awal dimulai dari stasiun Pasar Senen. Tepatnya pukul 07.00 WIB.
Sejenak tidak ada hal yang menarik di awal-awal perjalanan kereta. Dari balik jendela gerbong, aku hanya melihat gedung-gedung tinggi Jakarta dan beberapa pemukiman liar nan kumuh. Ditambah lagi tidak ada orang disebelahku. Entah kenapa gerbong kereta kali ini sepi penumpang, mungkin dikarenakan belum tibanya musim liburan.

            Perjalanan yang cenderung membosankan membuat beberapa penumpang memilih untuk langsung tidur. Begitupula denganku, apalagi posisiku menguasai satu kursi penuh karena tidak ada yang duduk disebelahku. Alhasil aku pun tidur dengan leluasa.

            Tiba di pemberhentian pertama, sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di stasiun Cirebon. Akupun terbangun karena suasana kereta tiba-tiba hening. Namun tidak lama, karena tiba-tiba saja gerombolan pedagang asongan masuk ke gerbong kereta dan mulai berteriak menjajakan barang dagangannya.
Beberapa penumpang lain ikut terjaga dari tidur mereka, dikarenakan teriakan para pedagang asongan yang bersuara dengan intonasi yang cepat namun nyaring. Nyaris berteriak.
Tentu saja begitu, karena mereka harus beradu cepat dengan waktu. Kereta yang hanya berhenti sekitar 10 menitan inilah yang menjadi harapan mereka untuk mencari sesuap nasi.

            Cara mereka menjajakan barang dagangan mereka pun berbeda-beda, ada yang menawarkan kepada para pembeli satu persatu, ada juga yang meletakkan barang dagangan mereka ke meja penumpang untuk kemudian diambil kembali saat kereta sudah akan berangkat. Berharap para penumpang ada yang tertarik tanpa harus menawarkannya satu persatu kepada penumpang.
Barang yang dijajakan pun beraneka macam, mulai dari makanan hingga peralatan rumah tangga.

            Pemandangan ini sebenarnya cukup unik, namun juga menyakitkan. Apalagi melihat beberapa dari mereka ada yang membawa anak kecil. Dan tak jarang pula sebagian pedagang memiliki cacat fisik. Maka ketika melihat mereka berdesak-desakan dengan padagang lain membuat hati ini pilu.

            “minumnya dek.?” Ujar seorang ibu-ibu pedagang menawarkan minuman yang ia jual padaku.
            “ndak bu, terimakasih, sudah ada” ujarku sambil sedikit mengangkat tangan. Lalu ia pun segera berlalu untuk menawarkan kepada penumpang lain.

            Akhirnya terdengar pemberitahuan bahwa kereta sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan. Alhasil semua pedagang pun segera keluar dari gerbong kereta dan menunggu kereta selanjutnya yang berhenti.

            Kereta kembali melaju kencang melanjutkan perjalanannya yang masih panjang. Dan ketika tiba di stasiun tempat pemberhentian selanjutnya, suasana yang terlihat nyaris sama seperti saat kereta berhenti di stasiun Cirebon. Bahkan karena gerbong tidak muat lagi, beberapa penjual tetap menawarkan barang dagangan mereka kepada penumpang  lewat luar gerbong. Dan transaksi dilakukan lewat kaca jendela.

            Kereta terus melaju hingga akupun akhirnya sampai di stasiun kebumen sekitar pukul 14.00 WIB.
######


            Melihat semua ini membuat aku berpikir, betapa susahnya untuk mencari nafkah. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk mengetahui akan hal ini, namun aku tau bahwa hidup ini keras, tidak bekerja berarti tidak makan. Dan jika nanti kedepannya pihak kereta api melarang para pedagang asongan untuk berdagang demi kenyamanan penumpang baik di gerbong kereta maupun di stasiun, lantas bagaimana nasib mereka yang selama ini bergantung kepada kereta yang berhenti.?

My Trip, My Story



Ini adalah cerita pengalamanku saat berlibur sendirian  di akhir semester satu 2014. Saat itu aku sedang berada di kelas 2 SMA.
               
Keberangkatanku dimulai sebelum pembagian rapor, alias libur duluan. Selain menghindari kepadatan di perjalanan,  juga untuk menghemat biaya tiket pesawat sebelum terjadi kenaikan di awal libur semester.
Dari rumah (LubukLinggau), aku diantar oleh papa dengan sepeda motor untuk mencari angkot ke stasiun. Tujuan awalku adalah Palembang, karena aku memilih bandara di Palembang untuk take off ke Jakarta.

                Pukul 21.00 kereta jurusan LubukLinggau- Palembang berangkat. Aku duduk di sebelah mas-mas kuliahan yang memiliki tujuan yang sama denganku, Palembang. Entah apa yang dia kerjakan di akhir semester waktu itu yang justru masuk kuliah di saat liburan hampir tiba. Entahlah, mungkin ia akan mengambil  semester pendek atau ada keperluan lain, aku tidak mau tau lebih jauh. Orangnya cukup  friendly  menurutku, dari gaya bicaranyalah aku dapat menilai. kami sempat mengobrol, membahas beberapa topik sebelum akhirnya kami tidur.

Malam semakin larut, dan semua  orang  bersiap untuk tidur, begitu pula orang di sebelahku yang justru memilih untuk tidur di lantai kereta dengan alasan tidak bisa tidur kalau tidur dengan posisi duduk. Agak tidak enak sebenarnya, namun yasudah, toh orang ini yang memilih duluan untuk tidur di bawah.
                                                                     ###########
     
Akhirnya kereta tiba di stasiun kertapati Palembang, sekitar pukul 6 pagi. Perjalanan aku lanjutkan dengan naik bus kota menuju kos-kosan kakakku. Sebelum berpisah, mas-mas yang disebelahku  ini mengajak berjabat tangan denganku sambil mengucap salam perpisahan dan mendoakanku untuk selamat sampai tujuan. What a friendly people.


Setelah stay selama 2 hari di kosan kakak-ku, akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju ibu kota. Setelah mendapat penjelasan rute dari kakak-ku, kali ini dengan menaiki bus kota dan disambung dengan ojek, aku menuju bandara Sultan Mahmud BadarudinII .
Setelah  check in akupun menunggu di kursi tunggu selama beberapa saat sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawatku.

Kembali aku menemukan orang yang ramah, kali ini orang yang berasal dari Malang. Dan ia sedang menunggu pesawatnya untuk pulang ke Malang. Orang ini duduk persis di sebelahku. Bertanya basa-basi tentang tujuanku dengan bahasa yang sangat ramah.
Taklama setelah itu, karena ingin merokok, ia pergi mencari ruangan khusus merokok, dan  ia menawariku untuk ikut.  

“maaf mas saya ndak merokok” ujarku.

Dan akhirnya orang tersebut pergi mencari ruangan merokok sendirian. Sebelum ia pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan mengambil satu bungkus roti, kemudian memberikannya padaku, sambil berujar bahwa roti itu tidak beracun dan ia orang baik-baik.
Akupun menerimanya sambil tersenyum mendengar ucapannya yang mungkin mengira bahwa aku menduga dia akan meracuniku dengan makanan.Haha

Setelah mendekati waktu keberangkatanku, aku beranjak dari kursiku untuk mencari terminal pesawat yang akan aku naiki. Dan kembali aku duduk disebelah orang Malang tadi. Setelah kembali mengobrol beberapa saat,  akhirnya pesawat yang ia tumpangi berangkat lebih dahulu. Ia pun beranjak dari kursi dan mengucapkan salam perpisahan sambil menjabat tanganku. Kemudian saling mendoakan keselamatan selama diperjalanan.
Sebenarnya orang tersebut sempat memperkenalkan namanya, tapi aku tidak ingat lagi sampai sekarang siapa nama orang tersebut.

                Akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawatku siap untuk diberangkatkan dan kami para penumpang diharapkan untuk memasuki pesawat.

Saat itu pesawat take off pukul 18.00 dan untungnya aku duduk di sebelah jendela. Maka sekali lagi aku mendapatkan kesempatan untuk melihat sunset dari atas awan. What a beautiful sky
                Setelah mendarat di Halim Perdanakusuma, aku melanjutkan perjalanan dengan Damri menuju tempat om dan tanteku di Bekasi.
Lagi-lagi aku menemukan keramahan disana. Melihataku bertanya dengan supir bus tentang tujuanku, seorang penumpang bus yang sama denganku, pria berumur sekitar 30 tahun keatas membantuku dengan menunjukkan arah, dan akhirnya aku berhasil menemukan jalan yang aku tuju.
Tidak ada salam perpisahan kali ini, setelah aku berterimakasih, orang tersebut langsung pergi dengan mengacungkan jempolnya dan berkata “sama-sama”

Akhirnya aku sampai dan setelah beberapa hari berkeliling ibu kota, aku pun melanjutkan perjalanan bersama omku menuju rumah nenek di kebumen. Dan dari sanalah aku bersama omku melakukan wisata kuliner.

Setelah semalam di kebumen, kembali aku dan om melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan melanjutkan wisata kuliner disana.
Sebelum pulang kembali ke kebumen. Kami menuju bantul dan mengunjungi tempat wisata di Bantul. Sempat diguyur hujan, menjadikan suasana kepulangan kami sedikit berbeda. Apalagi rute yang kami ambil berbeda dari keberangkatan kami semula.
Yogyakarta, beautiful and peace.

Akhirnya kami kembali ke Bekasi.Dan kembali kami mengambil rute perjalanan yang berbeda dari keberangkatan kami. So, saat itu kami benar-benar meng-explore jawa tengah.

Dibekasi, kembali aku bersama om berkeliling Jakarta. Melewatkan malam tahun baru disana, dan tak terasa waktu berliburku hampir habis.
Namun sebelum pulang aku sempat berlibur ke Bogor, tepatnya sehari sebelum jadwal kepulanganku ke Sumatera. Perjalanan ke bogor yaitu dengan menaiki krl. Meskipun hanya sehari, namun cukup untuk berwisata kuliner di sana dan melihat-lihat bogor,mulai dari kebun raya sampai istana presiden.



Tiba hari dimana aku harus kembali ke sumatera.Dan kali ini juga rute yang berbeda dari sebelumnya. Karena bandara kepulanganku kali ini adalah Soekarno-Hatta. Jadi sebelum tiba di Tangerang, kembali ada waktu beberapa jam untuku melihat Jakarta.

Tiba di bandara Palembang, aku melanjutkan perjalanan dengan taksi dan malamnya aku langsung pulang ke LubukLinggau dengan kereta api.
Kali ini orang yang duduk di sebelahku adalah orang tua yang sebenarnya sudah pantas untuk disebut kakek-kakek. Sepanjang perjalanan, kurang lebih 2 jam ia bercerita tentang masa mudanya dulu. Menunjukkan bahwa dia sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Apalagi kakek ini adalah mantan preman.

Tujan kakek ini tidak jelas, hanya sendirian menuju lubuk-linggau untuk bertemu teman lamanya yang entah dimana. Ia hanya tau bahwa temannya ada di Lubuk-Linggau. Kakek yang nekad menurutku.
Tapi untunglah ditengah malam ia berhenti bercerita dan akhirnya tertidur.

Esoknya aku sampai di lubuk-linggau dan kembali ke rumah.

Liburan kali ini bukanlah liburan pertama kali aku pergi tanpa kedua orang tua. Sejak smp aku sudah sering berlibur sendirian. Namun kali ini berbeda. Entahlah, rasanya liburan kali ini benar-benar lengkap. Mulai dari menemukan orang-orang ramah, wisata kuliner, rute perjalanan yang berbeda-beda, Apalagi dari segi transportasi, hanya kapal laut yang aku lewatkan di liburan kali ini. Meski sempat mengalami paranoid karena adanya kecelakaan pesawat air asia di akhir tahun. Namun itu tidak mengurangi keseruan dari liburanku.

Mungkin pengalaman liburan kalian lebih seru, mahal, dan lebih menyenangkan dari liburanku, namun tenang, Ini bukan akhir dari kegiatan liburanku. Ini baru awal, dan akan ada lagi dengan cerita yang berbeda disetiap perjalanannya.

Dan sekarang aku tau bahwa liburan itu tidak perlu jauh. Tidak perlu mahal. Tidak perlu pergi ke negeri orang. Kalian hanya perlu menikmatinya. Memang akan lebih indah jika kita bisa berpetualang ke berbagai penjuru dunia, namun aku bersaran berpetualang lah di negeri sendiri sebelum kalian berpetualang di negeri orang.
Dan ciptakan cerita yang berharga di setiap perjalananmu
Agar petualanganmu dapat memiliki arti tersendiri bagi dirimu.
Keep explore.





Story about team. Story about MFC



Micro Film Community. Ya! Itulah nama team yang kami buat. Mungkin kalian bertanya, kenapa memilih kata “Micro” yang berarti kecil. .
Memang benar. Micro berarti kecil, dan inilah kami. Sebuah team film yang kami bentuk diluar dari kegiatan sekolah. Atau lebih tepatnya kami yang membuat team ini sendiri. Meskipun dengan peralatan yang sangat sederhana, tapi bukan berarti kami tidak bisa berkarya, bahkan tidak pernah membuat semangat kami surut dalam hal menciptakan sebuah video. Selalu ada saja karya yang kami buat saat kita berkumpul. Maka dari itu nama micro kami pilih untuk team ini, dengan harapan apa yang kita rintis dari hal yang kecil ini dapat menjadi sebuah karya yang berbasis macro. Siapa sangka.?...

Dan inilah mereka …

Kita mulai dari camera-man.
Disini kami mempunya 3 orang camera-man. Wempy, fajri, dan Rafi.

WEMPY

 



Dia kelas 10.1 dia hampir saja batal bergabung dengan team kami karena masalahnya dengan wanita. Haha tapi untung saja dia akhirnya bergabung dengan team kami dan kami beruntung memilikinya. Meskipun dia sudah menjadi camera-man team inti kami, dia tidak pernah berhenti belajar untuk terus mengasah kemampuannya. Ini yang aku suka darinya.
Basicnya dia memang sudah menyukai fotografer sejak awal, dan pernah menjadi juara lensa SMANTU di sekolah kami. So, jangan tanyakan lagi insting lensanya.
Untuk posturnya sendiri dia tidak terlalu tinggi, berkulit gelap dan entah kenapa dia dijuluki Mr Kambeng.


FAJRI


            Sama halnya dengan wempy, dia juga kelas 10.1 postur tubuhnya pun sama dengan wempy, hanya saja Fajri sedikit lebih putih dari Wempy.
            Berbicara tentang kemampuan juga tidak ada bedanya dengan wempy. Ulet dan konsisten. So, kita ceritakan hal lain diluar itu saja.
Dia orangnya selalu merasa bodoh amat dengan keadaan, selalu jujur apa adanya, bahkan tidak pernah merasa perlu menjaga image sewaktu ada dalam team meskipun dihadapan pacarnya sendiri, yaitu editor kami, Ani.
Jika kalian bertemu dengannya, kalian harus mendengar bagaimana cara dia tertawa yang seperti gerombolan kuntilanak sedang arisan. Ya, itulah fajri.


RAFI

      Dia adalah camera-man team yang terakhir. Kelas 10.5 sekelas dengan Ani. Tinggi, berkulit sawo matang dengan tahi lalat di pipi kanannya. Meskipun dia camera-man, namun tak jarang kami menjadikan dia aktor apabila sedang dibutuhkan. Kemampuan aktingnya lumayan. Gayanya yang natural saat terekam kamera terkadang menjadikan dia enak dilihat.
Orangnya loyal dan sangat terbuka, selalu setuju apapun keputusan team. Kemanapun kita take, apapun peran yang harus dia mainkan, selalu dia sanggupkan. Dan itulah Rafi.











Kita lanjutkan ke team penulis.

Kita punya ogi, lhiya, rahmasiwi, tutik dan lainnya. Tidak banyak karakter yang dapat saya lihat dari mereka. Hanya mereka berempat yang dapat saya deskripsikan disini karena merekalah yang sering muncul disaat syuting dibandingkan penulis lain.

 OGI

            Biasa juga dipanggil Afif. Dia kelas 10.1 juga. Posturnya hampir sama dengan rafi, hanya saja rambutnya ikal dan tidak pernah panjang lebih dari 5cm semasa di SMA.
            Cerita karangannya adalah film pertama yang kami buat. Orangnya penuh ide, namun dia butuh partner yang bisa mengembangkan idenya. Disamping penulis, dia juga team kreatif dan tidak jarang memberi masukan yang baik untuk proses syuting. Satu lagi, dia adalah aktor parodi kami. Kalian harus melihat aktingnya saat bermain parodi. Parodi MFC tidak akan lengkap tanpa ogi.  


LHIYA

            Penulis kelas 10.4 yang satu ini selalu hadir disaat kita melaksanakan proses syuting, selalu siap merevisi scrip secara dadakan ababila dirasa kurang pas. Sama seperti ogi, idenya dalam hal mengembangkan cerita sangat luas. Bahkan ketika kami buntu dalam memikirkan suatu hal, Lhiya selalu bisa memunculkan pemikiran alternativenya.
            Orangnya mudah berbaur, sehingga mudah baginya untuk saling bertukar pikiran dengan penulis lain. Dan karena dialah team kami sudah memiliki costum team. Karena dia yang mengurus semuanya.


RAHMASIWI

           kelas 10.3.  Tak banyak yang bisa aku tuliskan tentang dia. Karena orangnya cenderung pendiam dalam team. Tapi yang aku tahu setelah membaca ceritanya, dia merupakan penulis dengan imajinasi tinggi namun tetap realistis dan mudah dicerna.
           
TUTIK

            Lagi lagi kelas 10.1. dialah Tutik novrida. Dari pertama melihat mukanya, siapapun juga tahu kalo dia seorang yang suka dibidang sastra. Dia juga penyair puisi, dan sebagai anak indekos, tentu saja banyak waktu luang baginya untuk menciptakan karya sastra yang hebat.
            Dia juga pendiam layaknya siwi, namun jangan salah, justru disaat diam dan tenang itulah goresan penanya bisa mengalir. Meski pendiam, dia punya kisah menarik dengan aktor kami di film pertama.


Team editor

Disini kami hanya memiliki 2 orang editor. Meskipun hanya 2, itu lebih dari cukup bagi kami, karena keduanya punya keahlian yang berbeda, dan apabila saling dipadukan, kami menjadi  merasa tidak perlu lagi memerlukan editor baru. Mereka adalah Ani dan Ipan.



ANI

            Siapa yang menyangka anak rumahan seperti dia yang tidak pernah tertarik untuk mengikuti ekstrakurikuler satupun mau bergabung dengan MFC.?
Tapi tidak usah kita hiraukan, yang penting dia sudah bergabung di team.
Ani sekelas dengan Rafi, mungkin karena kerjaannya sebagai youtubers di rumah, makanya dia mempunyai keahlian dalam bidang edit-mengedit video secara autodidak.
            Dilihat dari hasil kerjanya, dia adalah orang yang teliti dan ulet. Kalian dapat membuktikannya dengan menonton film kami nanti.


IPAN

           Jika menuliskan namanya, aku akan selalu teringat saat dimana kami berdua menunggu cukup lama di dalam ruangan sembari menunggu anggota team berkumpul. Orangnya loyal dan patuh. Ngotot untuk mencoba semua jenis aplikasi yang kita butuhkan. Selalu mencoba hal hal baru dan berimajinasi tinggi hanya dengan Bermodalkan sebuah notebook yang selalu dia bawa saat team berkumpul.
Rambutnya selalu pendek, sesuai dengan kepalanya yang bulat. Kulitnya sawo matang. Dialah ipan editor kami kelas 10.3

Yang terakhir adalah

PUTRI

            Dia adalah asisten sutradara. Tapi jangan salah, dia bisa jadi penulis, kreativ atau dubber spesialis puisi.
Dia adalah satu-satunya yang berkacamata di team. Basicnya dia adalah penulis, karena dia adalah blogger. Dia sangat sering memberikan kami saran-saran dan ide secara spontan. Tapi entah kenapa terkadang dia sendiri bingung posisinya sendiri di dalam team.
Orangnya selalu berpikir masak-masak, dan penuh perhitungan. sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan di dalam team.   




Mereka semua adalah MFC. Tidak ada peresmian dalam pembentukan team kami, namun kami selalu ingat kapan team kami terbentuk. 15-5-2015. Tanggal yang bagus bukan.?
            Syuting pertama kami dimulai di rumah putri, dan syuting pertama berhasil membuat kami basah kuyup dikarenakan hujan deras. Hujan yang sangat membantu bagi kami lebih tepatnya. Dan akan menjadi cerita tersendiri bagi kami para team.
            kemudian semua mengalami perkembangan seiring jalannya waktu. Kami membuat kostum team, menambah pekerjaan dengan membuat parodi singkat, dan tentu saja pengalaman dan keahlian kami juga bertambah.
           
            Film pertama kami akhirnya jadi. Selain hasil dari jerih payah team, itu semua juga tidak lepas dari dukungan para penghujat kami. Ya, karena olokan dari merekalah yang membuat kami semakin bersemangat. Bila perlu dibagian akhir film, kami tuliskan special thanks untuk para haters kami.
            Berbicara tentang team maka tidak akan lepas dari yang namanya konflik. Baik berbeda pendapat ataupun dikarenakan psikologis dari anggota masing-masing.
Aku ingat pertama kali emosi muncul dimulai dari rafi yang saat itu kelelahan karena kami bekerja seharian. Kemudian putri yang selalu marah apabila tidak ada hal penting yang kami diskusikan. Dan beberapa pertengkaran kecil yang disebabkan oleh anggota lain.

            Tapi semua tetap merasa tidak peduli. Bagaimanapun mereka akan berbaikan sendiri. Aku yakin, sangat yakin. itulah alasannya aku tidak pernah ikut campur dan memisahkan mereka. Haha sekilas terdengar jahat, tapi percayalah, itu semua akan kami rindukan nantinya..

Pandanganku sendiri terhadap MFC tidak begitu jelas. Karena dari sana aku hanya merasakan.
Meskipun tidak ada pelantikan yang menanamkan senioritas dan kekeluargaan, tapi aku merasakan semua itu di dalam team. Bukan hanya sekedar slogan atau jargon yang diteriakkan belaka, namun mereka melakukan dengan tindakan.

Inilah MFC. Team yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Aku tidak menuntut team ini diteruskan, tapi akan sangat senang apabila hobby kami ini dijadikan ekstrakurikuler oleh sekolah kami. Aku tidak menuntut untuk meneruskan nama bahkan logo team kami. Silahkan rubah jika ingin dirubah oleh penerus selanjutnya.

Meskipun kurang dari satu tahun. Ini sangat berarti. Aku tidak menyesal mengenal mereka baru-baru ini. Karena akan lain ceritanya apabila team ini dibentuk sejak dulu. Karena aku tidak akan mengenal mereka. Andai bisa kutinggalkan penghargaan bagi mereka satu persatu. Sayangnya hanya ucapan terima kasih yang bisa aku berikan untuk team ini.

            Terimakasih team, terimakasih wempy,fajri,rafi,ogi,lhiya,rahmasiwi,tutik,ani,ipan, dan putri. Terima kasih untuk semangat, waktu dan bakat kalian. Suatu kebanggaan dapat berkumpul dan berkarya bersama kalian.
Terimakasih kalian yg telah membuat cerita tersendiri saat di masa SMA ini.
Apapun yg terjadi kedepannya, atau bahkan saat kita sukses dibidang ini nanti, tak segan untuk aku menyebutkan bahwa semuanya dimulai dari sini.

MICRO FILM COMMUNITY